Internationalmedia.co.id – News – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, baru-baru ini mengangkat isu krusial terkait minimnya keterlibatan kaum perempuan dalam industri teknologi di Indonesia. Menurutnya, rendahnya partisipasi ini bukan sekadar ketidakadilan, melainkan sebuah hambatan serius yang menggerus daya saing dan inovasi bangsa di kancah global.
"Kesenjangan gender di sektor Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM) bukan hanya masalah keadilan semata, melainkan sebuah kepentingan strategis bangsa yang memerlukan solusi komprehensif dan terstruktur," tegas Lestari dalam pernyataan resminya, Senin.

Data terbaru dari Indonesia Chief Information Officer (CIO) 200 Summit 2026 di Jakarta menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan. Keterlibatan perempuan di industri teknologi Indonesia masih berada di bawah angka 20%, bahkan untuk posisi kepemimpinan tertinggi, angkanya hanya sekitar 8%. Perbandingan ini sangat mencolok jika melihat negara-negara tetangga seperti Thailand yang mencapai 42% dan Singapura dengan 41% partisipasi perempuan di sektor serupa.
Senada dengan itu, laporan International Labour Organization (ILO) tahun 2024 turut memperkuat gambaran ini. Meskipun sekitar 35% lulusan STEM di Indonesia adalah perempuan, hanya sekitar 8% dari mereka yang benar-benar meniti karier di sektor tersebut. "Ini mengindikasikan bahwa mayoritas perempuan dengan latar belakang pendidikan STEM tidak melanjutkan kiprahnya di dunia sains dan teknologi," jelas Lestari.
"Fenomena ini menegaskan bahwa akar masalahnya bukanlah pada kapabilitas akademik kaum hawa. Banyak perempuan menunjukkan prestasi gemilang di bidang sains dan matematika, namun mereka kerap terbentur oleh hambatan sosial serta stereotip gender yang secara tidak langsung membatasi ruang gerak mereka," papar Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat.
Anggota Komisi X DPR RI ini melanjutkan, hambatan tersebut seringkali berakar sejak usia dini. Ekspektasi sosial yang terbentuk sejak kecil dapat memengaruhi kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi. Kondisi ini, tanpa disadari, membuat banyak perempuan enggan memandang STEM sebagai pilihan karier yang prospektif dan realistis bagi masa depan mereka.
Guna memecahkan persoalan krusial ini, Lestari Moerdijat mendesak agar sistem pendidikan, mulai dari lingkungan keluarga hingga kebijakan pengembangan sumber daya manusia, memberikan atensi lebih pada upaya penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.
"Lembaga pendidikan, baik sekolah maupun perguruan tinggi, harus proaktif menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Ini berarti memberikan ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk aktif terlibat dalam riset, diskusi ilmiah, serta mengambil peran kepemimpinan akademik," tegasnya.
Lestari menambahkan, pembangunan ekosistem pendidikan yang bersifat inklusif akan membuka gerbang peluang yang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi secara signifikan dalam inovasi, pengembangan teknologi, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Ia menegaskan bahwa kesetaraan gender di bidang STEM bukan hanya sekadar isu keadilan sosial, melainkan sebuah imperatif strategis bagi kemajuan bangsa.
"Dengan memperluas akses bagi perempuan di bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan kesetaraan gender, tetapi juga memperkokoh fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing global," pungkas Lestari.
