Program Sustainable Living Village (SLV) hadir sebagai terobosan baru dalam pembangunan desa berkelanjutan, menempatkan masyarakat sebagai inti perubahan yang harmonis antara aspek ekonomi dan ekologi. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, inisiatif ini, yang merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan Apical Group melalui prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), berupaya menghadirkan solusi atas tantangan klasik di sektor sawit: bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani tanpa selalu identik dengan ekspansi lahan yang berpotensi merusak lingkungan. Di Aceh Singkil, SLV mewujudkannya melalui budidaya madu trigona, menawarkan alternatif penghidupan yang lestari.
Manajer Corporate Social Responsibility Apical, Sugiantoro, menjelaskan kepada internationalmedia.co.id baru-baru ini bahwa Apical, sebagai industri pengolahan minyak nabati, sangat menjaga aspek keberlanjutan rantai pasoknya sebagai faktor fundamental dalam operasional. Model SLV dikembangkan dengan pendekatan komoditas yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Selain di Aceh Singkil, program serupa juga dijalankan di Kutai Timur, Kalimantan Timur, melalui pengembangan kakao sebagai sumber penghidupan alternatif yang berakar pada potensi lokal.

Di Aceh Singkil, budidaya madu trigona menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya di area Suaka Margasatwa Rawa Singkil. "Produksi madu ini tidak membutuhkan pembukaan lahan baru, proses budidaya dilakukan dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada," terang Sugiantoro. Ia menambahkan, lebah trigona juga aman karena tidak menyengat, dan sebagaimana lebah pada umumnya, lebah trigona turut membantu proses penyerbukan tanaman di sekitarnya.
Dengan merasakan peningkatan pendapatan melalui budidaya ini, masyarakat terlihat mulai mengurangi ketergantungan dari hasil sawit dan meninggalkan praktik perburuan madu hutan secara tradisional. Dalam enam bulan terakhir, enam kelompok binaan tercatat menghasilkan sekitar 279 liter madu trigona dengan nilai penjualan lebih dari Rp 80 juta, yang dibagikan kepada 61 penerima manfaat sesuai hasil produksi masing-masing. Pendekatan ini juga memacu praktik ekonomi yang lebih terstruktur sekaligus meredakan tekanan terhadap ekosistem hutan. "Budidaya madu dipilih karena masyarakat telah akrab dengan aktivitas pencarian madu yang selama ini dilakukan di dalam hutan. Madu Trigona kami perkenalkan agar mereka bisa membudidayakan di sekitar tempat tinggal tanpa perlu memasuki kawasan hutan," ungkap Sugiantoro.
Kolaborasi Multipihak Membangun Fondasi Kuat
Program SLV dijalankan melalui kolaborasi multipihak antara Apical Group, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), serta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Kolaborasi ini menjadi pilar utama bagi tata kelola lanskap yang lebih baik dan inklusif, khususnya bagi petani swadaya. Ini mencakup pelatihan praktik perkebunan sawit berkelanjutan, penguatan kelompok tani, hingga pendampingan untuk mendorong legalitas lahan dan penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (S-TDB).
Hingga kini, sekitar 1.000 petani telah menerima pelatihan praktik perkebunan yang baik (Good Agricultural Practices) dan lebih dari 800 S-TDB telah diterbitkan bagi petani swadaya. Program ini juga mendorong petani menuju sertifikasi keberlanjutan agar rantai pasok memenuhi standar pasar global.
Program Manager IDH, Anne Fadilla Rachmi, menjelaskan bahwa IDH tidak hanya berperan sebagai fasilitator antar pemangku kepentingan, tetapi juga sebagai mitra yang memastikan perancangan program berjalan strategis, terukur, dan berorientasi pada dampak jangka panjang. "Di tingkat program, kami membantu Apical dalam merancang dan memberikan dukungan pembiayaan agar SLV dapat dijalankan dengan semangat kolaboratif. Perbaikan lanskap tidak dapat dilakukan secara parsial melalui proyek-proyek terpisah, tetapi harus dilihat sebagai tata kelola secara utuh," kata Anne. Ia menambahkan bahwa IDH mendorong para pihak untuk bersama-sama mencapai tujuan tersebut. Sejalan dengan pendekatan ini, SLV merupakan bagian dari kerangka program National Initiatives for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS) yang didukung oleh pemerintah Belanda dan Inggris, dan penerapannya juga dilakukan di berbagai negara lain.
Dampak Nyata di Lapangan: Kisah Khaidir
Program SLV di Aceh Singkil melibatkan 6 kelompok dari 6 desa, terdiri dari 61 petani. Salah satunya adalah Khaidir (30), warga Desa Teluk Rumbia yang juga Ketua Kelompok Madu Rumbia di Kecamatan Singkil. Ia bergabung dalam program budidaya madu trigona sejak tahun 2023. Meskipun awalnya diliputi keraguan, Khaidir tekun mempelajari budidaya madu yang hingga saat ini, kelompoknya telah mengelola 267 stup lebah dengan produksi sekitar 47 liter madu. Ini memberikan penghasilan tambahan sekitar Rp 350.000 hingga Rp 500.000 per bulan bagi setiap anggota kelompok.
Dari hasil itu, Khaidir memanfaatkannya untuk membiayai pendidikan anak dan secara bertahap merenovasi rumahnya. Khaidir juga merasakan rasa bangga tersendiri saat berkesempatan bertemu berbagai pihak untuk memasarkan produknya. "Alhamdulillah bisa juga sekolahkan anak, bisa juga bikin rumah sikit-sikit (sedikit-sedikit). Bisa pergi ke satu tempat, suatu kebanggaan lah. Bisa jumpa dengan orang penting, pejabat, masarkan (memasarkan) madunya," tuturnya. Selain keterampilan teknis, Khaidir dan kelompoknya juga dibekali pengetahuan teknis budidaya madu trigona serta strategi pemasaran melalui program studi banding ke Danau Sentarum, Kalimantan Barat.
Keterlibatan berbagai pihak dalam program SLV didasari oleh kesamaan visi antara penguatan ekonomi masyarakat dan upaya konservasi di Aceh Singkil, yang merupakan salah satu habitat krusial bagi orangutan Sumatera. "Alasan YEL bersedia menjadi mitra pelaksana SLV di Singkil adalah kesamaan visi menjaga ekosistem. Terutama di Singkil, di mana terdapat Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang merupakan konservasi kritikal untuk orangutan," ujar Direktur Konservasi YEL, M Yakob Ishadamy.
Yakob mengungkapkan bahwa desain SLV memiliki keselarasan dengan tujuan konservasi yang selama ini dijalankan oleh YEL. Program ini dianggap mampu membuka akses partisipasi ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tanpa merusak habitat penting. Kolaborasi YEL dengan Apical bermula dari pengalaman kerja sama sebelumnya di Aceh Tamiang terkait responsible sourcing, kemudian diperluas ke wilayah Aceh Singkil untuk memperkuat praktik kelapa sawit berkelanjutan melalui program SLV. "Program ini penting karena industri sawit diwajibkan memenuhi beragam standar kepatuhan di tingkat global, terutama dalam aspek kepatuhan rantai pasok," tambah Yakob.
Menjembatani Industri, Konservasi, dan Komunitas
Dinamika kepentingan antara sektor industri, upaya konservasi, dan komunitas masyarakat adalah hal yang lazim dalam perjalanan program. Menurut Yakob, semua pihak perlu mencari titik temu, di mana kolaborasi multipihak menjadi kuncinya. Pendekatan tersebut kemudian menjadi model bagi industri dalam memastikan rantai pasok berkelanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Bagi petani kecil, hak atas ruang, kepastian kepemilikan lahan, dan jaminan pasar menjadi isu krusial yang kerap muncul. SLV memberikan pendampingan untuk mendorong masyarakat agar lebih paham terkait legalitas lahan sehingga dapat memperkuat posisi mereka di masa mendatang. Bagi industri, seperti Apical, peningkatan legalitas dan sertifikasi tersebut menjadi jaminan bahwa rantai pasok memenuhi salah satu aspek kepatuhan pasar global. "Model seperti ini bisa menjadi best practice karena tidak hanya pada compliance dan regulasi, tetapi juga memastikan masyarakat menjadi bagian yang inklusif dalam kolaborasi yang terintegrasi," ujarnya.
Yakob tidak menampik bahwa pada masa lalu banyak lembaga konservasi sempat memandang sawit sebagai ancaman bagi lingkungan. Namun, setelah dipelajari lebih jauh, persoalan utamanya bukan pada komoditas sawit itu sendiri, melainkan pada tata kelola lanskap yang belum optimal. Ke depan, program SLV diharapkan dapat terus diperluas ke berbagai wilayah lain dengan pendekatan komunitas lokal yang berbeda. Model kolaborasi multipihak ini diyakini dapat menciptakan keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan industri sawit, dan perlindungan lingkungan.
