Internationalmedia.co.id – News – Kabupaten Kebumen kini menjadi sorotan utama dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Daerah ini terpilih sebagai salah satu dari dua lokasi percontohan Program Rice Journey, sebuah inisiatif ambisius dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program ini bertujuan menciptakan sistem tata kelola perberasan berbasis data yang revolusioner, demi mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan dan memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia.
Pemilihan Kebumen, khususnya Desa Grenggeng di Kecamatan Karanganyar, bukan tanpa alasan. Desa ini dinilai sangat representatif dengan hamparan sawah produktif, komunitas petani yang aktif, serta akses memadai yang mencerminkan potensi sekaligus tantangan sektor pertanian di wilayah tersebut. Hal ini terungkap dalam Forum Group Discussion (FGD) Kebijakan Berbasis Data Tata Kelola Komoditas Beras yang baru-baru ini digelar di Trio Azana Style Hotel Kebumen, Jawa Tengah.

Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pangan, Suhanto, menegaskan bahwa Indonesia saat ini mencatat surplus beras tertinggi dalam sejarah, mencapai 5,23 juta ton. "Program Rice Journey adalah langkah strategis pemerintah untuk memperkuat sistem pengambilan keputusan di sektor pangan," ujar Suhanto dalam keterangannya, Selasa (28/7). Ia menambahkan, inisiatif ini krusial untuk menjaga momentum positif tersebut dan memastikan ketersediaan pangan yang stabil.
Melalui kolaborasi dengan BRIN, pemerintah sedang mengembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey. Ini adalah Sistem Pendukung Keputusan (DSS) canggih yang mengintegrasikan data komoditas beras dari hulu hingga hilir, mencakup budidaya, panen, penggilingan, stok, distribusi, pasar, hingga konsumsi. Dashboard ini tak hanya menampilkan kondisi terkini, tetapi juga mampu menganalisis risiko, mensimulasikan berbagai skenario, dan merekomendasikan kebijakan berbasis data. Bahkan, sistem ini diproyeksikan menjadi early warning system untuk memantau kondisi produksi beras nasional agar kebijakan dapat diambil lebih cepat dan tepat.
Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah, menyambut baik kepercayaan pemerintah pusat yang menjadikan daerahnya sebagai percontohan. Sebagai penghasil beras terbesar kedelapan di Jawa Tengah, Kebumen memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan produktivitas melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, perluasan lahan tanam hingga target 170 ribu hektare, serta pengembangan sistem irigasi pompa agar petani dapat meningkatkan intensitas tanam dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.
Zaeni juga berharap penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog dapat terus dioptimalkan, mengingat produksi gabah Kebumen telah melampaui kebutuhan konsumsi lokal. Optimalisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Dalam implementasi program ini, setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kebumen diwajibkan menyediakan data yang terstandar, terintegrasi, dan interoperabel, dengan Dinas Komunikasi dan Informatika berperan sebagai walidata yang menyiapkan arsitektur pertukaran data antarperangkat daerah.
FGD tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pejabat pusat, daerah, tim peneliti BRIN, Perum Bulog, BPS Kebumen, hingga perwakilan pemerintah desa, kelompok tani, dan perusahaan penggilingan padi. Program Rice Journey diharapkan menjadi model pengelolaan data komoditas beras yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia, memastikan kebijakan pangan yang lebih akurat dan berbasis data demi masa depan pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan.
(internationalmedia.co.id/tim)
