Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah pasukan Israel melancarkan serangan yang menewaskan tiga warga sipil tak berdosa, termasuk seorang wanita. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Badan Pertahanan Sipil Gaza mengonfirmasi tragedi ini, yang terjadi di tengah upaya menjaga gencatan senjata yang rapuh sejak bulan Oktober lalu.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku, wilayah Gaza tetap dilanda kekerasan hampir setiap hari akibat serangan yang terus-menerus. Kedua belah pihak, baik Militer Israel maupun Hamas, saling melontarkan tuduhan pelanggaran kesepakatan tersebut. "Tiga martir dan beberapa lainnya terluka setelah serangan oleh pasukan pendudukan di Kota Gaza dan Khan Yunis," demikian pernyataan dari Badan Pertahanan Sipil Gaza.

Badan tersebut merinci bahwa dua pria kehilangan nyawa di Kota Gaza, tepatnya di dekat Bundaran Kuwait, lingkungan Zeitun. Mereka menjadi korban serangan rudal yang ditembakkan oleh drone Israel, yang secara tragis menghantam sekelompok warga sipil. Pihak Rumah Sakit Al-Shifa Gaza telah mengonfirmasi penerimaan jenazah kedua korban.
Dalam insiden terpisah yang memilukan, seorang wanita ditemukan tewas setelah ditembak oleh pasukan Israel di Khan Yunis. Jenazahnya kemudian dievakuasi dan dipindahkan ke Rumah Sakit Nasser untuk penanganan lebih lanjut.
Menanggapi laporan ini, Militer Israel menyatakan ketidaktahuannya mengenai insiden yang melibatkan kematian seorang wanita di Khan Yunis. Namun, mereka menambahkan bahwa penyelidikan sedang dilakukan terkait laporan kematian dua pria di Kota Gaza.
Gencatan senjata yang dimulai pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagian besar berhasil meredakan skala konflik besar, namun kekerasan sporadis di Gaza tak kunjung usai. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza, yang berada di bawah otoritas Hamas dan dianggap dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, menunjukkan bahwa setidaknya 811 warga Palestina telah kehilangan nyawa sejak dimulainya gencatan senjata. Di sisi lain, Militer Israel melaporkan lima tentaranya tewas di Gaza dalam periode yang sama.
Pembatasan ketat terhadap media dan akses yang sangat terbatas di Jalur Gaza telah menghambat kemampuan kantor berita AFP untuk secara independen memverifikasi angka korban atau meliput pertempuran secara bebas, menambah kompleksitas dalam mendapatkan gambaran utuh mengenai situasi di lapangan.
