Internationalmedia.co.id – News – Komunitas otomotif di Indonesia telah melampaui sekadar hobi, bertransformasi menjadi kekuatan pendorong vital bagi ekonomi kreatif nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, aktivitas mereka justru terbukti efektif menjaga denyut perputaran ekonomi masyarakat. Penilaian ini disampaikan oleh Bambang Soesatyo, yang dikenal sebagai Bamsoet, seorang Anggota DPR RI, Ketua MPR RI ke-15, sekaligus Ketua Dewan Pembina Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Bamsoet menguraikan, ketika dunia dihadapkan pada perlambatan perdagangan internasional, gejolak geopolitik, dan tekanan pada berbagai sektor industri, komunitas otomotif justru proaktif membuka gerbang peluang bisnis baru. Peluang ini merangkul berbagai lini, mulai dari pelaku UMKM, industri komponen, modifikasi, sektor aftermarket, pariwisata, hingga ekonomi digital. Sebagai gambaran, industri otomotif nasional tercatat menyumbang sekitar 1,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan III 2025, menempatkannya di posisi empat besar sektor industri pengolahan. Sektor ini juga menarik investasi sekitar Rp 174 triliun dan berhasil menyerap hampir 100 ribu tenaga kerja langsung. "Di balik setiap kegiatan komunitas, terdapat perputaran ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Ini adalah bukti nyata bahwa hobi dapat melahirkan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat," tegas Bamsoet.

Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet saat memberikan sambutan pada perayaan Hari Ulang Tahun Satu Dekade Mercedes-Benz W212 Club Indonesia (MBW212CI) di Avenue of The Star, Lippo Mall Kemang, Jakarta, Jumat (19/6) malam. Sebagai Dewan Kehormatan klub tersebut, Bamsoet menyoroti industri aftermarket atau suku cadang dan aksesori kendaraan sebagai salah satu penerima manfaat terbesar dari geliat komunitas otomotif. Ia mengamati, di tengah potensi perlambatan penjualan kendaraan baru, pasar aftermarket justru menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Hal ini didorong oleh kebutuhan esensial akan perawatan, modifikasi, dan personalisasi kendaraan yang terus ada. Prospek segmen aftermarket dinilai sangat stabil, mengingat besarnya populasi kendaraan yang beroperasi di Indonesia.
"Pasar aftermarket adalah cerminan bagaimana komunitas otomotif menjadi motor penggerak ekonomi. Semakin aktif sebuah komunitas, semakin tinggi pula permintaan akan komponen, aksesori, jasa modifikasi, perawatan kendaraan, serta berbagai produk kreatif yang menunjang gaya hidup otomotif," jelas Bamsoet, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi peran strategis komunitas otomotif dalam memperkuat ekonomi daerah melalui kegiatan touring dan eksplorasi destinasi wisata.
Ribuan anggota komunitas yang rutin melakukan perjalanan lintas provinsi, ungkap Bamsoet, memicu dampak signifikan terhadap perekonomian lokal. Dampak tersebut meliputi peningkatan tingkat hunian hotel, konsumsi produk-produk UMKM lokal, hingga promosi destinasi wisata yang mungkin sebelumnya kurang dikenal. Di era digital ini, setiap perjalanan yang didokumentasikan oleh anggota komunitas bahkan berfungsi sebagai sarana promosi gratis melalui media sosial, menjangkau jutaan pengguna internet.
"Ketika ribuan anggota komunitas melakukan touring ke suatu daerah, sesungguhnya mereka sedang menggerakkan roda ekonomi lokal secara masif. Hotel terisi penuh, restoran ramai dikunjungi, UMKM memperoleh pelanggan baru, dan destinasi wisata mendapatkan promosi yang efektif melalui media sosial para peserta," pungkas Bamsoet, menutup penjelasannya.
