Washington DC – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak menyusul kedatangan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa "armada besar" telah ditempatkan di dekat Iran. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan ini disampaikan Trump tak lama setelah militer AS mengonfirmasi kehadiran aset strategis tersebut.
Dalam wawancara eksklusif dengan media Axios, seperti dikutip dari The Times of Israel dan TASS pada Selasa (27/1/2026), Trump menekankan skala pengerahan militer kali ini jauh melampaui operasi di Venezuela beberapa waktu lalu. "Kita memiliki armada besar di dekat Iran. Lebih besar dari Venezuela," ujarnya, mengacu pada situasi di Venezuela yang kala itu berujung pada upaya penggulingan dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Situasi terkait Iran disebut Trump "sedang berubah-ubah", namun ia mengklaim bahwa Teheran menunjukkan ketertarikan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington. "Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya mengetahui itu. Mereka telah menelepon berkali-kali. Mereka ingin berdialog," ungkap Trump, tanpa merinci lebih lanjut mengenai detail komunikasi atau opsi yang akan diambilnya.
Sebelumnya, di awal bulan ini, Trump sempat mempertimbangkan perintah serangan terhadap target rezim di Iran menyusul pembunuhan ribuan demonstran. Keputusan tersebut ditunda, bersamaan dengan pengerahan aset militer ke kawasan. Sumber dari Gedung Putih mengonfirmasi bahwa opsi militer tetap berada di meja, meskipun gejolak unjuk rasa di Iran telah mereda.
Axios melaporkan bahwa Trump belum membuat keputusan final mengenai Iran dan dijadwalkan akan melakukan konsultasi lebih lanjut pekan ini, di mana ia akan dihadapkan pada serangkaian opsi militer tambahan. Kedatangan USS Abraham Lincoln, yang telah memasuki wilayah tanggung jawab Pusat Komando AS (CENTCOM) pada Senin (26/1) waktu setempat, dipandang sebagai penguat signifikan bagi opsi-opsi tersebut.
Secara terpisah, seorang pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya, menyatakan kepada wartawan beberapa jam setelah wawancara Trump, bahwa Gedung Putih "terbuka untuk bisnis" terkait negosiasi dengan Iran. "Mengenai Iran, kami terbuka untuk berbisnis. Jika mereka ingin menghubungi kami, dan mereka mengetahui persyaratannya, maka kita akan melakukan pembicaraan," tegas pejabat tersebut. Meskipun rincian "persyaratan" tidak diungkapkan, ia menambahkan bahwa syarat-syarat AS untuk kesepakatan telah berulang kali disampaikan kepada Teheran sepanjang tahun lalu. Ini mengindikasikan adanya jalur diplomasi yang tetap terbuka di tengah tekanan militer.
