Manila – Internationalmedia.co.id – News melaporkan, sebuah tragedi maritim mengguncang Filipina setelah kapal feri MV Trisha Kerstin 3 tenggelam di lepas pantai barat daya Mindanao pada Senin (26/1) dini hari. Insiden mematikan ini merenggut setidaknya 18 nyawa dan menyebabkan sejumlah orang lainnya masih hilang. Sebagai respons cepat dan tegas, otoritas Filipina telah menangguhkan seluruh operasional armada penumpang dari perusahaan pelayaran lokal, Aleson Shipping Lines, yang merupakan pemilik kapal nahas tersebut.
Kapal feri bertingkat tiga itu membawa 344 penumpang dan awak ketika karam secara tiba-tiba. Meskipun sebagian besar berhasil diselamatkan tak lama setelah kejadian, 18 korban jiwa telah dikonfirmasi, dan tim penyelamat masih berjuang mencari setidaknya 10 orang yang dinyatakan hilang. Komandan Penjaga Pantai Filipina, Ronnie Gavan, mengungkapkan bahwa di antara yang hilang adalah kapten kapal, delapan awak, dan seorang petugas keselamatan.

Menteri Transportasi Filipina, Giovanni Lopez, pada Selasa (27/1) menegaskan bahwa seluruh armada penumpang milik Aleson Shipping Lines akan "di-grounded" atau dihentikan sementara operasionalnya di pelabuhan. "Saat ini, seluruh armada penumpang Aleson Shipping Company (sedang) di-grounded," kata Lopez dalam pengumumannya. Langkah drastis ini diambil sambil menunggu penyelidikan menyeluruh yang diperintahkan langsung oleh Presiden.
Regulator maritim dan penjaga pantai Filipina akan melakukan audit keselamatan komprehensif selama 10 hari ke depan untuk memastikan kepatuhan standar. Lopez menambahkan, "Jika ternyata pemilik kapal lalai, mereka akan menghadapi sanksi hukum sepenuhnya." Fakta mengejutkan lainnya, perusahaan ini memiliki catatan 32 insiden keselamatan di laut sebelumnya, meski rincian spesifik insiden-insiden tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut.
Insiden ini semakin menjadi sorotan karena MV Trisha Kerstin 3 tenggelam di rute yang hampir sama dengan kapal feri Lady Mary Joy 3 yang terbakar pada tahun 2023, menewaskan 31 orang. Kedua kapal nahas tersebut, seperti dilansir internationalmedia.co.id, sama-sama dimiliki oleh Aleson Shipping Lines, memicu pertanyaan serius tentang standar keselamatan perusahaan.
Prioritas utama saat ini adalah upaya pencarian dan penyelamatan korban. Komandan Gavan menekankan, "Yang terpenting saat ini adalah nyawa." Sebanyak 16 penyelam teknis dan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) telah diterbangkan dari Manila untuk mendukung operasi pencarian dan penyelidikan. Diperkirakan, bangkai kapal feri kini berada di kedalaman sekitar 76 meter. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Aleson Shipping Lines terkait tragedi mematikan yang menimpa armadanya.
