Internationalmedia.co.id – News – Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah menerima serangkaian laporan intelijen yang sangat penting, mengindikasikan bahwa rezim Iran saat ini berada pada titik terlemahnya dalam empat dekade terakhir. Kondisi ini disebut-sebut sebagai yang paling rentan sejak penggulingan Shah dalam revolusi tahun 1979. Informasi mengejutkan ini, yang diungkapkan oleh sejumlah sumber AS kepada media terkemuka New York Times (NYT) dan dilansir The Times of Israel pada Selasa (27/1/2026), menyoroti gejolak internal yang signifikan di Teheran.
Menurut laporan NYT, cengkeraman pemerintah Iran terhadap kekuasaan telah goyah secara drastis akibat gelombang unjuk rasa antipemerintah yang melanda negara itu sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini. Protes-protes tersebut, yang awalnya mungkin dianggap terisolasi, justru meluas hingga ke wilayah-wilayah yang secara tradisional dikenal sebagai basis pendukung kuat Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran.

Meskipun intensitas unjuk rasa sebagian besar telah mereda, laporan intelijen AS secara konsisten menyoroti bahwa rezim Iran masih berada dalam posisi yang sangat sulit. Selain tekanan dari demonstrasi, kondisi ekonomi Iran juga digambarkan sangat rapuh, menambah beban berat bagi pemerintah yang berkuasa.
Situasi ini menempatkan Presiden Trump di persimpangan jalan krusial. Awal bulan ini, ia nyaris memerintahkan serangan militer terhadap target rezim di Iran, menyusul pembunuhan ribuan demonstran. Namun, keputusan tersebut ditunda, sembari AS mengerahkan aset-aset militer strategis ke kawasan tersebut.
Para penasihat garis keras mendesak Trump untuk bertindak tegas dan menegakkan "garis merah" terhadap Iran. Di sisi lain, penasihat lainnya berargumen bahwa tindakan militer bisa menjadi kontraproduktif. Mereka melihat melemahnya rezim Teheran justru membuka peluang langka untuk terobosan diplomatik.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump sempat menyebutkan adanya "armada besar di dekat Iran". Pernyataan ini sejalan dengan pengumuman militer AS mengenai kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perang pendampingnya, yang dilengkapi rudal Tomahawk, di kawasan Timur Tengah pada Senin (26/1). Para pejabat militer AS, seperti dikutip NYT, menyatakan bahwa jika Trump memutuskan untuk menyerang Iran, kelompok tempur kapal induk tersebut secara teoritis dapat beroperasi dalam waktu satu atau dua hari, didukung oleh jet tempur F-15 dan jet tempur siluman F-35.
Namun, di tengah pengerahan kekuatan militer ini, Trump juga memberikan sinyal lain. Dalam wawancara yang sama, ia mengisyaratkan bahwa Teheran tertarik untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, membuka pintu bagi opsi diplomatik. Ketidakpastian mengenai keputusan akhir Trump tetap menyelimuti, dengan masa depan Iran dan stabilitas regional kini bergantung pada langkah yang akan diambil Washington.
