Internationalmedia.co.id – News – Sebuah forum diskusi penting di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menghadirkan sejumlah pejabat tinggi negara berakhir ricuh setelah diserbu oleh sekelompok mahasiswa. Insiden yang terjadi pada Senin malam (15/6) ini melibatkan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, memicu kekecewaan mendalam dari pihak yang diundang.
Budiman Sudjatmiko, yang hadir sebagai salah satu pembicara, mengungkapkan kekecewaannya mendalam atas kegagalan forum diskusi yang seharusnya menjadi wadah berharga. Ia menegaskan kehadirannya adalah atas undangan resmi, dengan niat mempresentasikan program-program dan sikap Presiden Prabowo Subianto terkait berbagai isu krusial. "Saya sangat menyesalkan forum yang sangat berharga itu gagal," ujarnya kepada wartawan, baru-baru ini.

Menurut Budiman, dialog substansial belum sempat terjadi. Saat presentasi berlangsung, sekelompok mahasiswa tiba-tiba merangsek ke panggung dari arah belakang, membuat para pejabat terkepung. Meskipun situasi memanas, Budiman dan rombongan memilih bertahan karena merasa tidak diusir oleh panitia maupun pihak UGM. Ia juga menghargai ratusan mahasiswa lain yang hadir dan siap berdialog, bahkan untuk melontarkan kritik keras. "Kami siap mendengarkan. Dan kami siap menjelaskan," imbuhnya, menekankan pentingnya menjaga forum diskusi.
Kericuhan ini tidak hanya sebatas penggerudukan. Budiman menceritakan adanya aksi pemukulan dan lemparan botol air. Insiden tersebut juga diwarnai pelemparan botol air, bahkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dilaporkan sempat terkena pukulan. Budiman sendiri nyaris menjadi korban, namun ajudannya berhasil menghalangi pukulan benda yang dibungkus kertas, sehingga mengenai kepala ajudannya.
Meski menghadapi insiden kekerasan, Budiman menegaskan tidak kapok untuk berdiskusi dengan mahasiswa. Ia menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam forum dialog apapun, bahkan dengan pihak oposisi paling keras sekalipun, selama ada undangan dan waktu memungkinkan. "Tidak akan pernah menolak selama ada undangan," tegasnya, menunjukkan komitmennya terhadap proses dialog terbuka.
Insiden di UGM ini telah dilaporkan Budiman kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan ajudan Presiden Prabowo Subianto. Pesan dari Istana, menurut Budiman, adalah untuk "terus maju, jangan takut, dan terus menerangkan" program-program yang diyakini berada di jalur yang benar. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus menjelaskan inisiatifnya melalui dialog, meskipun menghadapi tantangan.
Di sisi lain, aksi mahasiswa yang menggeruduk acara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Senin malam (15/6) diketahui merupakan bentuk kritik keras terhadap pemerintah. Mesa, perwakilan Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, menegaskan bahwa aksi mereka adalah manifestasi kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah. Mereka menilai pemerintah tidak layak membicarakan Pancasila jika masih membungkam suara rakyat dan menganggap kritik sebagai gangguan.
Mahasiswa juga menyoroti dugaan pemborosan uang rakyat melalui program-program yang dianggap nirmanfaat, seperti MBG dan Kopdes Merah Putih. "Selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat… mereka tidak layak membicarakan Pancasila," kata Mesa, seperti dikutip dari internationalmedia.co.id.
Acara diskusi mulanya berjalan lancar, namun situasi memanas ketika sejumlah mahasiswa naik ke panggung dan membentangkan spanduk penolakan. Diskusi kemudian dihentikan, dan ketiga pejabat sempat dievakuasi di tengah hadangan ratusan mahasiswa di luar GIK UGM. Meskipun Nusron Wahid dan Sudaryono sempat mencoba berdialog, pembicaraan kembali buntu, diakhiri dengan aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas saat evakuasi.
