Internationalmedia.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menuai kontroversi dengan pernyataan kerasnya mengenai kebijakan imigrasi. Dalam rapat kabinet yang digelar pada Selasa (2/12), Trump secara blak-blakan mengaku tidak ingin lagi melihat imigran Somalia berada di tanah Amerika.
Dilansir dari Associated Press, Trump menuding warga Somalia terlalu bergantung pada bantuan sosial dan minim kontribusi bagi negara. "Mereka tidak berkontribusi apa pun. Jaminan sosialnya hanya 88% atau lebih. Mereka tidak berkontribusi apa pun. Saya tidak ingin mereka di negara kita," tegas Trump dalam rapat tersebut.

Komentar pedas ini muncul tak lama setelah pemerintahannya mengumumkan penghentian sementara semua keputusan suaka, menyusul insiden penembakan yang melibatkan seorang imigran asal Afghanistan. Trump memanfaatkan momen ini untuk mempertanyakan keberadaan imigran dari negara lain, termasuk Somalia. "Negara mereka tidak baik karena suatu alasan. Negara Anda buruk dan kita tidak ingin mereka di negara kita," ujarnya.
Pernyataan Trump juga bertepatan dengan skandal di Minnesota terkait dugaan penyelewengan dana layanan sosial senilai USD 1 miliar yang melibatkan warga Amerika keturunan Somalia. Dalam rapat kabinet, Trump bahkan menyindir anggota kongres Demokrat dari Minnesota, Ilhan Omar, yang juga memiliki darah Somalia. "Ilhan Omar itu sampah. Teman-temannya itu sampah," kata Trump. "Biarkan mereka kembali ke tempat asal mereka dan memperbaikinya," lanjutnya.
Pekan lalu, Trump mengakhiri perlindungan terhadap deportasi warga Somalia yang telah berlaku sejak 1991. Jaksa penuntut saat ini tengah menyelidiki dugaan pencurian uang pembayar pajak di Minnesota, yang melibatkan kelompok-kelompok yang mengklaim memberi makan anak-anak selama pandemi Covid-19.
Minnesota, yang dikenal sebagai negara bagian dengan sejarah panjang dalam menerima pengungsi, merupakan rumah bagi komunitas Somalia-Amerika yang besar. Skandal ini juga memiliki dimensi politik, mengingat gubernur Minnesota saat ini adalah Tim Walz, seorang Demokrat yang pernah menjadi kandidat wakil presiden dari partai tersebut.
