Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah membuka pintu lebar bagi Iran untuk memulai negosiasi guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan ini muncul setelah upaya perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, memicu spekulasi tentang langkah selanjutnya dalam ketegangan geopolitik ini. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Trump menegaskan bahwa Teheran bisa langsung menghubungi Washington jika serius ingin berdialog.
Sebelumnya, harapan untuk menghidupkan kembali perundingan damai antara kedua negara sempat pupus. Pada Sabtu (25/4), Trump membatalkan kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner ke Pakistan. Pembatalan ini terjadi setelah Teheran menolak untuk melakukan pembicaraan langsung dengan Washington, memilih untuk menyampaikan aspirasinya melalui Islamabad sebagai mediator.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang sempat mengunjungi Islamabad pada tanggal yang sama. Namun, kunjungannya hanya untuk bertemu dengan pejabat senior Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif, tanpa ada pertemuan langsung dengan perwakilan AS. Situasi ini mengulang kegagalan pertemuan awal di Islamabad pada pertengahan April lalu yang juga berakhir tanpa kesepakatan.
Dalam wawancara dengan program Fox News "The Sunday Briefing" pada Senin (27/4), Trump dengan lugas menyatakan, "Jika mereka (Iran) ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka dapat menghubungi kami. Anda tahu, ada telepon. Kami memiliki saluran yang bagus dan aman." Ia menambahkan syarat utama yang tidak bisa ditawar: "Mereka tahu apa yang seharusnya ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak demikian, tidak ada alasan untuk bertemu." Ketika ditanya apakah pembatalan delegasi berarti pertempuran akan kembali, Trump menepisnya dengan tegas, "Tidak, itu tidak berarti demikian."
Konflik antara AS dan Iran telah menyebabkan ketegangan serius, meskipun gencatan senjata sementara telah menghentikan pertempuran skala penuh yang dimulai oleh serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Belum ada kesepakatan final yang tercapai untuk mengakhiri perang. Iran telah menutup sebagian besar Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak global, sementara Washington memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelaburan Iran.
Di tengah kebuntuan ini, laporan terbaru dari media AS Axios, mengutip sumber pejabat AS, menyebutkan bahwa Iran telah menyerahkan proposal baru kepada AS melalui Pakistan. Proposal ini disebut memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan blokade laut oleh AS sebagai langkah awal, dengan negosiasi nuklir ditunda ke tahap selanjutnya. Teheran juga mengusulkan perpanjangan gencatan senjata untuk jangka waktu yang lebih lama.
Hingga kini, Presiden Trump belum memberikan komentar terkait proposal baru dari Iran tersebut. Iran sendiri sejak lama menuntut AS untuk mengakui haknya dalam memperkaya uranium untuk tujuan damai, klaim yang selalu dibantah oleh negara-negara Barat dan Israel yang menuduh Iran memiliki ambisi senjata nuklir.
