Internationalmedia.co.id – Sri Lanka tengah berduka. Bencana banjir bandang yang melanda negara tersebut telah merenggut nyawa 123 orang, dan 130 lainnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah Sri Lanka telah mengerahkan tentara untuk melakukan operasi penyelamatan terhadap ratusan warga yang terisolasi akibat banjir.
Pusat Penanggulangan Bencana (DMC) melaporkan bahwa jumlah korban tewas terus bertambah seiring dengan penemuan jenazah di wilayah tengah yang paling parah terdampak, di mana banyak korban terkubur hidup-hidup akibat tanah longsor. Curah hujan ekstrem, mencapai 360 milimeter dalam 24 jam terakhir, memperparah situasi.

Sungai Kelani, yang melintasi ibu kota Kolombo, meluap dan membanjiri wilayah sekitarnya. Direktur Jenderal DMC, Sampath Kotuwegoda, menyatakan bahwa operasi bantuan sedang berjalan intensif. Lebih dari 43.000 orang telah dievakuasi ke pusat-pusat pengungsian setelah rumah mereka hancur akibat hujan deras yang berlangsung selama seminggu.
Helikopter dan kapal angkatan laut dikerahkan untuk mengevakuasi warga dari atap rumah, puncak pohon, dan desa-desa terpencil yang terisolasi oleh banjir. Seorang warga Kaduwela, V. S. A. Ratnayake, menyebut banjir kali ini sebagai yang terburuk dalam tiga dekade terakhir.
Lebih dari 3.000 rumah dilaporkan rusak akibat tanah longsor dan banjir, memaksa lebih dari 18.000 orang mengungsi. DMC memperingatkan bahwa hujan diperkirakan akan terus berlanjut. Siklon Ditwah diperkirakan akan bergerak menjauh dari utara menuju Tamil Nadu, India selatan.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyampaikan belasungkawa atas tragedi ini dan menjanjikan bantuan dari pemerintah India. Para pejabat DMC khawatir bahwa tingkat banjir kali ini akan lebih parah dibandingkan tahun 2016, di mana 71 orang tewas. Informasi ini dilansir internationalmedia.co.id.
