Sebuah tragedi kemanusiaan kembali mengguncang perairan Mediterania, ketika Internationalmedia.co.id – News melaporkan penemuan 19 jenazah migran di dalam sebuah perahu karet. Kapal nahas ini terombang-ambing di selatan Pulau Lampedusa, Italia, sebelum akhirnya ditemukan oleh penjaga pantai setempat. Selain korban meninggal, tim penyelamat berhasil menyelamatkan 58 individu lainnya, termasuk lima anak-anak, dalam operasi yang berlangsung pada Rabu dini hari. Para migran yang selamat kemudian dievakuasi menuju Lampedusa.
Wali Kota Lampedusa, Filippo Mannino, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas insiden ini. Beliau mengonfirmasi bahwa tujuh orang, termasuk dua anak, harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Mereka menderita hipotermia parah dan keracunan akibat menghirup asap hidrokarbon, kondisi yang mengindikasikan penderitaan panjang di tengah laut.

Operasi penyelamatan yang krusial ini berlangsung sekitar 135 kilometer (85 mil) dari garis pantai Italia, tepatnya di zona pencarian dan penyelamatan yang secara teknis berada di bawah yurisdiksi Libya. Juru bicara penjaga pantai, Roberto D’Arrigo, menjelaskan bahwa perahu tersebut pertama kali terdeteksi hanyut oleh pesawat pengintai Italia pada hari Selasa. Namun, tidak ada kapal penjaga pantai Libya maupun kapal sipil yang tersedia di area tersebut untuk memberikan bantuan awal, memaksa Italia untuk mengirimkan kapal penjaga pantainya dari Lampedusa.
D’Arrigo menduga kuat bahwa beberapa korban jiwa mungkin telah meninggal dunia selama proses evakuasi kembali ke Lampedusa. Kondisi cuaca ekstrem dengan gelombang setinggi tujuh meter (23 kaki) diperkirakan menjadi faktor utama yang memperburuk situasi. Foto-foto yang dirilis oleh kantor berita ANSA memperlihatkan pemandangan pilu kantong-kantong jenazah yang diturunkan dari kapal penjaga pantai di dermaga, menjadi saksi bisu atas tragedi ini.
Lampedusa telah lama dikenal sebagai gerbang utama bagi ribuan migran yang mempertaruhkan nyawa menyeberangi Laut Mediterania dari Afrika Utara. Perjalanan berbahaya ini seringkali berujung pada kematian, menambah daftar panjang korban di perairan tersebut. Badan pengungsi PBB (UNHCR) menyatakan kesedihan mendalam melalui akun X mereka, "Kami sangat sedih atas insiden tragis lainnya di Mediterania." UNHCR menegaskan bahwa perwakilan mereka segera memberikan dukungan komprehensif kepada para korban selamat.
Data dari Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (IOM) menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: 624 migran telah meninggal atau dinyatakan hilang di Mediterania tengah sepanjang tahun ini saja. Tragedi serupa bukan kali pertama terjadi di Lampedusa; pada Agustus 2025, 27 nyawa melayang dalam dua insiden kapal terpisah di lepas pantai pulau itu. Kementerian Dalam Negeri Italia mencatat, hingga saat ini, total 6.117 migran telah berhasil mencapai daratan Italia.
Sementara itu, pada hari yang sama, sebuah insiden tragis terpisah juga terjadi di Laut Aegea. Sebanyak 19 migran Afghanistan, termasuk seorang bayi, dilaporkan tewas setelah perahu karet yang mereka tumpangi tenggelam di lepas pantai barat daya Turki. Insiden ini terjadi setelah kapal mereka dihadang oleh penjaga pantai Turki, menambah panjang daftar korban dalam krisis migran global.
