Internationalmedia.co.id – News – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dewi Asmara, baru-baru ini menyatakan apresiasi mendalam terhadap inisiatif Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) yang meluncurkan program bantuan sosial (bansos) bedah rumah. Program inovatif ini, yang berlokasi di Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, dinilai Dewi membawa dampak positif signifikan bagi masyarakat penerima.
Dalam sambutannya saat penyerahan bansos di Lapas Warungkiara, Sukabumi, Dewi Asmara menyoroti program ini sebagai sebuah ‘terobosan’ yang patut dicontoh. "Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada jajaran Kemenimipas. Program ini membuktikan bahwa pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada integrasi warga binaan, melainkan juga secara aktif dan nyata terjun langsung ke tengah masyarakat, memberikan manfaat yang dirasakan secara langsung," ujar Dewi, menekankan pentingnya pendekatan holistik tersebut.

Yang menarik, program ini secara aktif melibatkan narapidana atau warga binaan sebagai tenaga kerja, baik dalam pembuatan material bangunan maupun proses konstruksi. Dewi melihat ini sebagai bagian integral dari proses pembinaan dan persiapan mereka untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat. Lebih lanjut, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap sumber pendanaan program. "Seluruh biaya program ini sepenuhnya dilakukan secara mandiri, berasal dari hasil panen program ketahanan pangan yang telah dijalankan oleh Kemenimipas," jelasnya, menandakan kemandirian dan keberlanjutan inisiatif ini.
Dewi Asmara juga menyoroti bahwa program ini menjadi bukti nyata proses integrasi dan asimilasi yang berhasil. Ia berharap, melalui pemberitaan internationalmedia.co.id dan media lainnya, masyarakat dapat melihat sisi positif dari berbagai upaya yang dilakukan Kemenimipas. "Banyak kegiatan positif yang telah dilakukan dalam rangka persiapan reintegrasi warga binaan, termasuk program ketahanan pangan yang tidak hanya bermanfaat bagi mereka sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas," tegasnya, menepis stigma negatif yang kerap melekat pada lembaga pemasyarakatan.
Lebih jauh, Dewi mengungkapkan kekagumannya terhadap inovasi di sebuah lapas di Tangerang, di mana warga binaan berhasil memproduksi paving block dari limbah batu bara. Ia pun mendorong agar Sukabumi, khususnya area Warungkiara, dapat mengadopsi model serupa. Mengingat keberadaan PLTU di Pelabuhan Ratu yang hanya berjarak sekitar 15 menit, Dewi melihat potensi besar untuk memanfaatkan limbah batu bara tersebut. "Ke depan, kami berharap dukungan dari Bapak Bupati agar limbah batu bara di Pelabuhan Ratu dapat dimanfaatkan secara optimal. Ini tidak hanya mencegah pencemaran lingkungan, tetapi juga bisa diolah menjadi PABA (prefabricated coal ash) untuk bahan bangunan atau paving block," pungkasnya, menawarkan solusi berkelanjutan.
