Sebuah pengalaman tak terlupakan dimulai di Negeri Ginseng. Udara sejuk sisa musim semi masih membelai saat rombongan jurnalis, termasuk perwakilan dari Internationalmedia.co.id – News, menginjakkan kaki di Bandara Internasional Incheon. Perjalanan selama sepekan ini merupakan bagian dari program The Indonesian Next Generation Journalist Network, inisiatif Korea Foundation bekerja sama dengan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI), yang bertujuan untuk menyelami lebih dalam seluk-beluk Korea Selatan sekaligus merayakan eratnya persahabatan Indonesia-Korea.
Setibanya di Seoul, Samcheonggak menjadi pemberhentian pertama, menyuguhkan jamuan makan siang hangat dengan sentuhan budaya dan seni yang kental. Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation, Yonguk Kim, menyambut langsung para peserta. Sore harinya, penelusuran sejarah berlanjut ke Museum Nasional Korea. Di sana, Pagoda Batu Sepuluh Tingkat yang megah menjadi saksi bisu perjalanan panjang Korea, termasuk kisah pahit pencurian dan perjuangan pengembaliannya dari Jepang pada awal abad ke-20. Hari pertama ditutup dengan pemandangan menawan di Taman Banpo Hangang, menikmati santap malam di tepi Sungai Han yang tenang. Pengalaman ini membuka tirai menuju pemahaman yang lebih dalam tentang jalinan persahabatan antara Indonesia dan Korea Selatan.

Mengukir Persahabatan Erat Indonesia-Korea
Keesokan harinya, fokus beralih ke ranah diplomasi di Gedung Majelis Nasional Korea Selatan. Ketua Komite Persahabatan Majelis Nasional Korea Selatan-Indonesia, Gi-hyeon Kim, menyambut rombongan di ruang Komite Urusan Diplomasi dan Unifikasi, menegaskan makna penting pertemuan di pusat diplomasi ini. Ia menggarisbawahi hubungan erat kedua negara yang telah terjalin sejak 1973, diperkuat oleh berbagai program pertukaran, termasuk program jurnalis ini. Gi-hyeon Kim juga berbagi cerita mengenai kunjungan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu, yang semakin memperkuat ikatan personalnya dengan Indonesia.
Data menunjukkan sekitar 77 ribu warga Indonesia menetap di Korea, sementara 27 ribu warga Korea tinggal di Indonesia, menjadi bukti nyata kedekatan ini. Gi-hyeon Kim juga mengakui popularitas konten Korea seperti drama dan musik di Indonesia, berharap pertukaran budaya dan seni akan terus berkembang pesat.
Dari Gedung Parlemen, perjalanan berlanjut ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul. Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menyambut hangat, menekankan peran jurnalis sebagai agen persahabatan. Dubes Cecep menjelaskan bahwa hubungan diplomatik yang telah berusia puluhan tahun ini telah mencapai level ‘Special Comprehensive Strategic Partnership’—sebuah status istimewa yang hanya dimiliki Indonesia di mata Korea Selatan. Ini bukan sekadar simbol, melainkan cerminan kepercayaan mendalam dan kerja sama yang solid di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, pendidikan, budaya, teknologi, hingga pertahanan.
Sektor pertahanan menjadi salah satu pilar utama kerja sama. Indonesia tidak hanya menjadi pembeli produk alutsista Korea Selatan seperti KRI Mandau, pesawat latih KT-1 dan T-50, hingga kapal selam Nagapasa, tetapi juga mitra strategis dalam proyek pengembangan jet tempur KF-21 Boramae. Keterlibatan insinyur dan pilot Indonesia dalam proyek ini menunjukkan tingkat kepercayaan dan transfer teknologi yang signifikan.
Menjelajahi Berbagai Sisi Korea Selatan
Selain diplomasi formal, rombongan juga diajak melihat berbagai sisi Korea Selatan. Kunjungan ke Kementerian Luar Negeri Korea Selatan memungkinkan diskusi tentang hubungan bilateral dan tantangan global, termasuk pertukaran pandangan dengan jurnalis lokal mengenai pola peliputan dan masa depan jurnalistik di era AI. Kantor Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) menjadi forum diskusi investasi dan kerja sama ekonomi, sementara makan siang santai dengan Dr. Eunsook Chung dari The Sejong Institute dan Dr. Jihyouk Lee dari Overseas Economic Research Institute—peneliti yang akrab dengan batik Indonesia—menambah wawasan tentang keunikan kedua negara.
Kemajuan industri juga tak luput dari perhatian. Hyundai Motor Studio Goyang menampilkan teknologi terkini dalam pengembangan kendaraan, khususnya potensi besar pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia yang dinilai terus berkembang.
Mengenal ‘BMW’ Ala Korea
Selama sepekan, satu hal yang paling menonjol adalah integrasi sistem transportasi publik. Warga Seoul terbiasa bepergian dengan moda transportasi umum, melahirkan istilah ‘BMW’ – bukan merek mobil mewah asal Jerman, melainkan singkatan dari Bus, Metro, dan Walk.
Pengalaman ‘BMW’ ini terasa puncaknya saat perjalanan ke Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon. Dimulai dari Stasiun Seoul, rombongan menjajal kereta cepat KTX selama tiga setengah jam, melintasi hamparan sawah dan pegunungan yang kontras dengan hiruk pikuk ibu kota. Di KAI, diskusi tentang industri dirgantara dan pertahanan Korea Selatan berlangsung intens, dengan kesempatan langka melihat langsung jet tempur KF-21 Boramae, proyek kolaborasi penting yang melibatkan Indonesia.
Perjalanan dilanjutkan dengan kereta gantung terpanjang di Korea Selatan, menyuguhkan pemandangan spektakuler pegunungan dan laut dari ketinggian, sebelum kembali ke Seoul menggunakan pesawat. Dari bandara, rangkaian perjalanan berlanjut dengan kereta bandara, subway, dan berjalan kaki menuju hotel. Pengalaman sehari penuh menjajal berbagai moda transportasi ini menjadi bukti nyata efisiensi dan kebiasaan warga Seoul. Pada jamuan makan siang perpisahan, pertanyaan tentang penggunaan transportasi umum dijawab dengan lugas: ‘tentu’, menegaskan bahwa ‘BMW’ adalah gaya hidup yang tak terpisahkan dari denyut nadi ibu kota Korea Selatan.
