Internationalmedia.co.id – News – Teheran. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman intervensi terkait gelombang unjuk rasa yang melanda Iran. Otoritas Teheran bereaksi keras bernada kemarahan, menyebut ancaman tersebut sebagai bentuk campur tangan yang berbahaya dan terang-terangan dalam urusan internal mereka.
Ancaman Trump, yang disampaikan pada Jumat (2/1) waktu setempat, menegaskan kesiapan AS untuk "datang menyelamatkan" para demonstran Iran. Ia secara spesifik menyatakan, "Jika Iran menembak dan membunuh demonstran, yang beraksi damai, secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak." Pernyataan ini muncul di tengah laporan korban jiwa dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, segera mengecam pernyataan Trump sebagai "ceroboh dan berbahaya." Melalui media sosial X, Araghchi menduga pesan Trump ini mungkin dipengaruhi oleh pihak-pihak yang "takut akan diplomasi" atau keliru meyakini bahwa diplomasi tidak lagi relevan. Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar unjuk rasa di Teheran dan kota-kota lain berlangsung damai, sembari mengingatkan tindakan Trump yang sebelumnya mengerahkan Garda Nasional AS untuk menindak demonstrasi di kota-kota besar Amerika.
Senada, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan membiarkan campur tangan asing dan akan menyelesaikan masalah mereka "melalui dialog dan keterlibatan." Baghaei mengajak publik untuk meninjau kembali "catatan panjang" tindakan para politisi Amerika yang, atas nama "menyelamatkan rakyat Iran," justru meninggalkan jejak pahit. Ia menyinggung kudeta tahun 1953 terhadap mantan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, penembakan jatuh pesawat sipil Iran pada tahun 1988, dukungan AS untuk mantan diktator Saddam Hussein selama perang Iran-Irak, serta dukungan terhadap Israel. Baghaei menyebut ancaman terbaru ini sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip paling mendasar hukum internasional."
Unjuk rasa yang memicu ketegangan ini dimulai pekan lalu di Grand Bazaar Teheran, pusat bisnis lokal, dipicu oleh kesulitan ekonomi dan depresiasi tajam mata uang Rial Iran. Demonstrasi kemudian meluas ke berbagai wilayah, dengan beberapa insiden berubah menjadi kekerasan, termasuk pembakaran mobil. Laporan dari kantor berita semi-resmi Fars dan kelompok hak asasi manusia Hengaw mencatat adanya korban jiwa di beberapa kota, termasuk Lordegan, Azna, dan Kouhdasht. Namun, tidak dijelaskan secara spesifik apakah korban tersebut adalah demonstran atau anggota pasukan keamanan. Otoritas Teheran menuduh "kekuatan eksternal" menghasut para demonstran damai untuk melakukan tindak kekerasan.
Kecaman juga datang dari lingkaran dalam kepemimpinan Iran. Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa "setiap campur tangan yang menyerang keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dihadapkan pada respons-respons." Ia menegaskan bahwa "keamanan nasional Iran adalah garis merah, bukan bahan untuk cuitan adventurisme." Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ari Larijani, dalam pernyataan terpisah memperingatkan bahwa campur tangan AS di Iran akan memicu destabilisasi kawasan Timur Tengah dan merugikan kepentingan Amerika.
Ancaman Trump dan respons keras dari Teheran ini menambah daftar panjang ketegangan antara kedua negara, menggarisbawahi potensi eskalasi di tengah situasi domestik Iran yang bergejolak dan sensitif.
