Thursday, 13 June 2024

Search

Thursday, 13 June 2024

Search

Hubungan Turki Dan NATO Pecah

Bendera Turki dan NATO

ANKARA(IM) – Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu menyebut bahwa negaranya saat ini tengah melakukan perang psikologis dengan anggota aliansi pakta pertahanan atau NATO.
Perang dingin ini pecah usai pemerintah Amerika memperingatkan warga negaranya yang berada di Turki untuk waspada terkait adanya kemungkinan serangan terhadap gereja, sinagoge dan misi diplomatik di Istanbul.
Melansir dari Washington Post peringatan tersebut merupakan kali kedua yang dilontarkan pemerintah AS, menyusul insiden pembakaran Al-Qur’an di Eropa.
Pasca AS melontarkan pernyataan tersebut, sejumlah anggota aliansi NATO meliputi Inggris, Belanda, Jerman, Belgia, dan enam negara lainnya memutuskan untuk menutup sementara kantor konsulat mereka di Istanbul, dengan alasan ancaman teroris.
Turki menilai pernyataan yang disampaikan AS telah mendorong para sekutunya untuk membatasi hubungan dengan Turki. Alasan ini yang kemudian membuat hubungan Turki dengan aliansi NATO pecah.
Terlebih sebelumnya Turki dan Barat tengah bersitegang, akibat penolakan Ankara untuk menyetujui Swedia dan Finlandia bergabung sebagai anggota pakta pertahanan NATO.
“Jika mereka ingin menciptakan citra bahwa Turki tidak stabil dan ada bahaya terorisme, maka itu tidak sesuai dengan persahabatan dan kemitraan,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.
Sejak Swedia dan Finlandia mengungkap niatannya untuk bergabung dalam pakta tersebut, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan tegas menolak untuk memberikan izin pada keduanya.
Menurut Erdogan Swedia dan Finlandia secara diam – diam aktif memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok yang telah ditetapkan Ankara sebagai teroris, dengan menyuplai senjata – senjata dan kebutuhan pokok lainnya.
Sebelumnya Turki telah melayangkan peringatan untuk Swedia maupun Finlandia untuk mengakhiri dukungannya pada anggota sayap kiri yang disinyalir sebagai milisi Kurdi, namun peringatan tersebut diabaikan oleh keduannya.
Atas dasar ini Turki enggan menyetujui penerimaan Swedia dan Finlandia ke NATO, karena dukungan dari semua negara anggota NATO diperlukan untuk menerima negara baru, maka proses aksesi dua negara Nordik itu terpaksa mandek selama berbulan – bulan.
Sejumlah cara telah dilakukan AS agar kedua tersebut dapat bergabung dengan NATO, diantaranya dengan mengancam untuk menghentikan pengiriman senjata Jet F-16 apabila Erdogan tak kunjung memberikan restu.
Ancaman ini dikeluarkan AS sebagai jurus jitu guna mengancam Turki lantaran ekspor senjata tersebut merupakan pembelian yang terbesar yang dilakukan Turki dalam beberapa tahun terakhir.
Juru bicara pemerintahan di gedung Istanbul hingga kini belum memberikan respon apapun terkait desakan tersebut, namun sejumlah pihak menilai ketegangan Turki dengan anggota NATO akan semakin memanas, lantaran perang dingin diantara keduanya tak menunjukkan titik terang.

Frans C. Gultom

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media