Sunday, 19 May 2024

Search

Sunday, 19 May 2024

Search

Gelar Kongkow Budaya ke-4, Pengurus Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio Kupas  Sejarah Toasebio

Husen Buntara saat memaparkan sejarah Vihara Dharma Jaya Toasebio.

JAKARTA—Jajaran pengurus Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio, kembali menggelar Kongkow Budaya ke-4, di Aula Serbaguna Toasebio, Jalan Kemenangan Petak Sembilan, Jakarta Barat, Minggu (8/1).

Kongkow Budaya kali ini mengupas Sejarah Toasebio yang disampaikan oleh perwakilan dari pendiri Yayasan Dharma Jaya Toasebio, Husen Buntara Sjarifudin dan dipandu oleh moderator Yani Darma.

KI-KA: Ivana, Wong Eddy, Husen B Sjarifudin, Arifin Tanzil  dan Wihadi Sunito.

         Acara ini diawali dengan doa oleh Bhante Khanit Sanyanto Mahatera Tejavaro Vera,  pengarahan dari Pembimbing Masyarakat Buddha DKI Jakarta, Suwanto S. Ag. M.M,  Ketua Umum DPP Generasi Muda Buddhis Indonesia yang juga Anggota DPR RI Komisi VII Bambang Patijaya, SE, M.M.

Turut  hadir mantan Dirjen Bimas Buddha Budi Setiawan, Ketua Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio Arifin Tanzil, Pembina Yuanto Kenchana Jaya dan Perwakilan Permabudhi Soka Dharma.

         Lalu hadir pula putera salah satu dari pendiri yayasan Sjarifudin yaitu Handy Sjarifudin, Hendra Sjarifudin dan sejumlah putera pendiri lainnya serta puluhan masyarakat sekitar Toasebio yang turut menjadi saksi sejarah serta undangan perwakilan wihara Dharma Bakti, Wihara Dharma Sakti dan beberapa vihara lainnya, ada juga tokoh Wihadi Sunito.

Arifin Tanzil bersama Bhante yang hadir dalam Kongkow Budaya.

         Pembimas Buddha DKI Jakarta Suwanto dalam pengarahannya menyampaikan bahwa rumah ibadah adalah rumah milik umat dan untuk umat. Bukan milik segelintir orang atau kelompok,  karena  sejatinya rumah ibadah dibesarkan oleh umat karena sumbangsih dan kontribusinya serta doanya selama menjalankan ibadah.

Dia menambahkan bahwa rumah ibadah yang baik dikelola oleh yayasan yang dipimpin oleh orang yang amanah dan terus membesarkan dan membina umatnya.

Husen B Sjarifudin dan Bambang Patijaya.  

         Hal yang sama juga disampaikan oleh Bambang Patijaya, Ketua Umum DPP Generasi Muda Buddhis Indonesia yang juga Anggota DPR RI Komisi VII, yang merupakan umat aktif dan rajin beribadah di Toasebio dari sejak kecil dan remaja.

         Perwakilan pendiri Yayasan Dharma Jaya Toasebio Husen Buntara Sjarifudin menceritakan asal usul Toasebio hingga saat ini merupakan jasa dari berbagai pihak sejak dirinya dipaksa untuk memimpin vihara setelah dianjurkan selama 3 kali oleh seorang peramal terkenal ko Anjuk.

         Vihara Dharma Jaya Toasebio sejak zaman VOC sudah 3 kali ganti nama. Pada Zaman VOC nama Kelenteng Hong San Bio.

Hendra B Sjarifudin (kedua dari kiri) bersama hadirin dalam Kongkow Budaya.
Para tamu undangan yang hadir dalam Kongkow Budaya.

Pada Zaman Belanda Kelentang Toa See Kong /Toa See Bio (menurut sejarawan Ms. Claudine Salmond bersama suaminya Mr. Dannish Lombart) pada tahun 1740 dibumi hanguskan oleh VOC atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Geger Pacinan atau Tragedi Kali Angke.

Arti Toa Se Bio sebenarnja dari TOA SEE KONG gelarnya kongco Ceng Gwan Ceng Kun. Arti dari Toa See Sejarawan Agung.

Kelenteng toasebio secara de facto, memang didirikan oleh perkumpulan yaitu Asosiasi Changtai secara bersama-sama demi untuk kepentingan besar dan bukan hanya untuk perseorangan semata.

Yayasan Dharma Jaya Toasebio

Yayasan diinisiasi oleh 9 orang pada 5 Januari 1983 yaitu Ferdinand Kencana  Jaya, Husin Buntara Sjarifudin (Pendiri Kenari Djaja tahun 1965), Husen Buntara Sjarifudin, Ny Agustinawati S. A. /Ci Aan, Rahman Santosa (ayahnya Andi), Liauw Kiong Hoa, Wong Sem Fie, Harjanto Widjaja (kakak dari Ko Je En), Mujadin Pengestu setelah disetujui Ferry K. Jaya (papa Juwanto) sebagai pemilik sebagian area di kelenteng Toasebio, dan menghibahkan kepada yayasan dan umat Toasebio.

Foto para pendiri Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio.

         Selama aktif di kepengurusan Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio sejak 1982 sampai dengan 2005 yaitu kurang lebih selama 23 tahun, semuanya difokuskan untuk umat, karena tidak ada gunanya vihara tanpa umat. Karenanya terus dilakukan perbaikan fasilitas ibadah, altar, lilin, wajan minyak dan keamanan serta kenyamanan umat dalam beribadah termasuk menggelorakan budaya pengobatan, musik gambang kromong ikut serta gotong Toapekong.

         Husen B Sjarifudin juga mengapresiasi ketua yayasan saat ini yang dipimpin Arifin Tanzil, dimana  pembangunan gedung serba guna atau gedung merah dan prasasti yang berada di depan gedung merah ini, diresmikan oleh Pembimas Buddha DKI Jakarta Suwanto dan mantan Dirjen Bimas Buddha Budi Setiawan.

Foto pembebasan lahan dan penyerahan cek uang pengganti.

         Kemudian prasasti sejarah kelenteng Toasebio yang diresmikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada Juni 2022 lalu.

         Vihara Dharma Jaya Toasebio yang sebelumnya bisa dikatakan kotor, kini bersih bahkan Kimsin Kimsin / patung Dewa Dewi sebelum di tata setiap bulan 2 – 3 kali mengadakan Bakti sosial, pembagian sembako, masker, vitamin, hand sanitaizer dan masih banyak lagi tanpa melihat golongan dan agamanya sampai saat ini masih berjalan dan membuat poliklinik kesehatan.

         Dalam kesempatan tersebut, Husen B Sjarifudin menyampaikan terima kasih kepada Arifin Tanzil, atas integritas dan dedikasinya dalam memimpin sebuah vihara sehingga umat terus bertambah dan bersumangsih untuk kemajuan Vihara.

Dia juga mendoakan keluarga Yuanto yang telah ikhlas memberikan hak penuh pada yayasan sesuai amanah orangtua yang telah menghibahkan arena dan masyarakat di sekitar dan pernah tinggal dalam area Vihara Toasebio. bam

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media