Satu nyawa melayang dan tiga lainnya terluka parah dalam insiden tragis di Yerusalem, ketika sebuah bus menabrak kerumunan demonstran. Peristiwa ini, seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News, terjadi saat ribuan warga Yahudi ultra-Ortodoks menggelar aksi menentang undang-undang wajib militer baru yang menargetkan komunitas mereka.
Petugas penyelamat dari Magen David Adom mengonfirmasi bahwa bus tersebut awalnya menabrak tiga pejalan kaki, sebelum kemudian melaju dan menjebak seorang remaja berusia 18 tahun di bawahnya. Remaja malang itu dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Insiden mematikan ini terjadi pada Selasa (6/1), di tengah gelombang unjuk rasa besar-besaran. Ribuan warga Yahudi ultra-Ortodoks turun ke jalan untuk menentang kebijakan yang mewajibkan mereka bergabung dengan militer Israel. Kebijakan ini muncul di tengah kebutuhan mendesak akan personel militer setelah dua tahun konflik di berbagai front. Protes serupa telah menjadi pemandangan rutin dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Kepolisian Israel, demonstrasi pada hari itu berubah ricuh. Sejumlah kecil perusuh dilaporkan mulai mengganggu ketertiban umum secara brutal, memblokir lalu lintas, merusak bus, membakar tempat sampah, serta melemparkan benda dan telur ke arah petugas polisi dan jurnalis. Bus yang terlibat dalam insiden itu disebut "dihadang oleh para perusuh". Sopir bus, yang identitasnya dirahasiakan, telah ditangkap dan mengaku diserang oleh massa sebelum insiden tragis itu terjadi. Sumber kepolisian menepis dugaan serangan teror.
Undang-undang wajib militer yang menjadi pemicu protes ini telah menciptakan keretakan dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kubu oposisi dan beberapa mitra koalisi mendesak peningkatan jumlah perekrutan militer. Namun, partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks, sekutu tradisional Netanyahu, menentang keras wajib militer bagi mahasiswa agama, yang merupakan basis konstituen utama mereka. Sejak pendirian Israel pada tahun 1948, pemuda yang mendedikasikan diri pada studi agama Yahudi secara de-facto dibebaskan dari wajib militer.
Pengecualian ini kini menjadi sorotan tajam publik Israel, terutama setelah puluhan ribu tentara wajib militer dan pasukan cadangan dimobilisasi di berbagai front. Meskipun gencatan senjata yang rapuh telah mengakhiri pertempuran di Jalur Gaza, isu ini tetap memanas. Dengan populasi ultra-Ortodoks yang mencakup sekitar 14 persen dari total populasi Yahudi di Israel, dukungan partai-partai mereka sangat krusial bagi kelangsungan koalisi pemerintahan Netanyahu.
