Penulis: Gunawati

Gunawati

kontributor International Media yang berfokus pada peliputan berita dari kawasan Amerika dan Eropa. Ia secara rutin menyajikan analisis mengenai kebijakan luar negeri, isu-isu sosial, dan perkembangan politik di negara-negara Barat.

Internationalmedia.co.id melaporkan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah lepas pantai Kamchatka, Rusia pada Jumat (19/9/2025). Getaran dahsyat tersebut memicu peringatan tsunami di kawasan tersebut, meningkatkan kekhawatiran akan potensi kerusakan besar. Informasi dari AFP menyebutkan gempa terjadi beberapa hari setelah wilayah tersebut dilanda gempa kuat lainnya. Pusat gempa berada 128 kilometer timur Petropavlovsk-Kamchatsky, Rusia, dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), kekuatan gempa yang signifikan ini memaksa Pusat Peringatan Tsunami Pasifik AS untuk mengeluarkan peringatan dini. Peringatan tersebut mengindikasikan potensi gelombang tsunami berbahaya yang mengancam garis pantai di sekitar episentrum gempa. Pihak berwenang setempat…

Read More

Berita mengejutkan datang dari Semenanjung Kamchatka, Rusia. Internationalmedia.co.id melaporkan, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah tersebut Jumat (19/9/2025) pagi waktu setempat. Getarannya terasa hingga ke bangunan-bangunan, bahkan menyebabkan furnitur dan lampu bergetar hebat, seperti terlihat dalam beberapa video yang beredar di media sosial. Bayangkan mobil-mobil yang terparkir ikut bergoyang! Gempa yang terjadi pada kedalaman 10 kilometer ini berpusat sekitar 128 kilometer timur Petropavlovsk-Kamchatsky, ibu kota wilayah tersebut, menurut USGS. Meskipun cabang layanan geofisika Rusia mencatat magnitudo yang sedikit lebih rendah, yakni 7,4, dampaknya tetap signifikan. Lima gempa susulan dilaporkan terjadi setelahnya. Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id Akibatnya, Pusat Peringatan Tsunami…

Read More

Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di London menghasilkan perbedaan pendapat yang cukup signifikan, khususnya mengenai pengakuan negara Palestina. Internationalmedia.co.id melaporkan, Trump secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya dengan rencana Starmer untuk mengakui negara Palestina di Majelis Umum PBB. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam konferensi pers bersama Starmer. "Kami memiliki perbedaan pendapat mengenai hal ini—salah satu dari sedikit perbedaan pendapat kami," ujar Trump, seperti dikutip dari AFP. Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat upaya Inggris untuk mendukung solusi dua negara guna mengakhiri konflik di Gaza. Sementara Inggris mendukung resolusi PBB yang mendorong solusi dua negara, AS…

Read More

Albania gempar. Internationalmedia.co.id melaporkan, negara Balkan itu baru saja mengangkat menteri berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Diella. Pidato perdananya di parlemen pekan lalu langsung menyita perhatian dunia. Diella, yang dalam bahasa Albania berarti ‘matahari’, muncul dalam wujud video AI seorang perempuan berbusana tradisional Albania. Dalam pidatonya, Diella menegaskan kehadirannya bukan untuk menggantikan manusia, melainkan membantu. Ia menanggapi kritik yang menyebutnya inkonstitusional karena bukan manusia. "Bahaya nyata bagi konstitusi bukanlah mesinnya, melainkan keputusan tidak manusiawi dari mereka yang berkuasa," tegas Diella. Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id Penunjukan Diella sebagai menteri oleh Perdana Menteri Edi Rama bertujuan memberantas korupsi. Rama berencana menugaskan Diella…

Read More

Perbatasan Thailand-Kamboja kembali memanas. Internationalmedia.co.id melaporkan, insiden terbaru terjadi Rabu (17/9) lalu, di area perbatasan yang disengketakan. Militer Thailand mengklaim telah menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah sekitar 200 warga Kamboja yang berdemonstrasi. Pihak Thailand menyatakan aksi tersebut sebagai tindakan pembelaan diri setelah demonstran melempari pasukan mereka dengan batu dan benda-benda lainnya saat pemasangan kawat berduri di perbatasan Sa Kaeo. "Penggunaan gas air mata dan peluru karet diperlukan untuk mengendalikan situasi dan memaksa massa mundur," jelas militer Thailand dalam pernyataan resminya. Mereka juga menegaskan bahwa warga Kamboja telah melanggar wilayah Thailand dan menganggap tindakan tersebut sebagai provokasi…

Read More