Albania gempar. Internationalmedia.co.id melaporkan, negara Balkan itu baru saja mengangkat menteri berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Diella. Pidato perdananya di parlemen pekan lalu langsung menyita perhatian dunia. Diella, yang dalam bahasa Albania berarti ‘matahari’, muncul dalam wujud video AI seorang perempuan berbusana tradisional Albania.
Dalam pidatonya, Diella menegaskan kehadirannya bukan untuk menggantikan manusia, melainkan membantu. Ia menanggapi kritik yang menyebutnya inkonstitusional karena bukan manusia. "Bahaya nyata bagi konstitusi bukanlah mesinnya, melainkan keputusan tidak manusiawi dari mereka yang berkuasa," tegas Diella.

Penunjukan Diella sebagai menteri oleh Perdana Menteri Edi Rama bertujuan memberantas korupsi. Rama berencana menugaskan Diella untuk menangani semua tender publik, menjanjikan transparansi 100 persen dan bebas korupsi. Langkah ini diambil di tengah peringkat Albania yang berada di posisi ke-80 dari 180 negara dalam indeks korupsi Transparency International. Bahkan, Wali Kota Tirana, mantan rekan dekat Rama, tengah menghadapi proses praperadilan atas dugaan korupsi.
Namun, langkah kontroversial ini menuai kecaman dari oposisi. Mantan Perdana Menteri Sali Berisha menyebut penunjukan Diella hanya gimik untuk menarik perhatian dan tidak akan mampu memberantas korupsi. Ia bahkan berencana membawa masalah ini ke Mahkamah Konstitusi.
Diella sendiri merespon kekhawatiran konstitusional dengan menekankan komitmennya terhadap tugas, tanggung jawab, transparansi, dan tanpa diskriminasi. "Saya jamin, saya mewujudkan nilai-nilai ini sekeras rekan manusia mana pun. Mungkin bahkan lebih," ujarnya.
Perjuangan melawan korupsi menjadi kunci bagi Albania untuk bergabung dengan Uni Eropa. Rama berharap Albania dapat bergabung dengan blok tersebut pada tahun 2030. Apakah Diella akan menjadi solusi atau justru menambah kompleksitas permasalahan korupsi di Albania? Waktu yang akan menjawabnya.
