Internationalmedia.co.id – News – Tokyo kembali menunjukkan ketidakpuasannya secara terbuka terhadap Beijing. Jepang melayangkan protes keras kepada China menyusul pernyataan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, yang menuduh "kekuatan sayap kanan ekstrem" di Jepang berupaya menghidupkan kembali militerisme. Insiden diplomatik ini terjadi pada Minggu (15/2), menambah daftar panjang ketegangan antara kedua raksasa Asia tersebut.
Pernyataan kontroversial Wang Yi disampaikan dalam Konferensi Keamanan Munich di Jerman. Di hadapan audiens internasional, Wang secara eksplisit memperingatkan bahwa: "Rakyat Jepang tidak boleh lagi membiarkan diri mereka dimanipulasi atau ditipu oleh kekuatan sayap kanan ekstrem tersebut, atau oleh pihak yang berupaya menghidupkan kembali militerisme." Ia bahkan menambahkan ancaman serius: "Semua negara pencinta damai harus mengirimkan peringatan yang jelas kepada Jepang: Jika Jepang memilih untuk kembali ke jalan ini, mereka hanya akan bergerak menuju kehancuran diri sendiri."

Kementerian Luar Negeri Jepang segera merespons dengan penolakan tegas. Melalui pernyataan yang dirilis pada Minggu (15/2) waktu setempat, Tokyo menyebut tuduhan Wang Yi sebagai "tidak benar secara faktual dan tidak berdasar." Jepang menegaskan bahwa upaya mereka untuk memperkuat kemampuan pertahanan adalah respons yang wajar terhadap lingkungan keamanan regional yang semakin kompleks dan menantang, bukan ditujukan kepada negara ketiga mana pun.
Lebih lanjut, Kementerian Luar Negeri Jepang menyoroti adanya "negara-negara di komunitas internasional yang telah dengan cepat meningkatkan kemampuan militer mereka secara tidak transparan," sebuah sindiran yang jelas mengarah pada China sendiri. Jepang menyatakan menentang langkah-langkah semacam itu dan menjaga jarak dari praktik tersebut.
Protes resmi telah disampaikan Tokyo kepada Beijing melalui jalur diplomatik, sebagaimana dikonfirmasi oleh Menlu Jepang, Toshimitsu Motegi, dalam sesi terpisah di konferensi yang sama di Munich. Ketegangan ini bukan kali pertama. Sebelumnya, hubungan kedua negara memanas setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi, beberapa minggu setelah menjabat, menyatakan Jepang akan melakukan intervensi militer jika Taiwan diserang. Komentar tersebut memicu kemarahan Beijing, yang menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah kedaulatannya dan tidak segan menggunakan kekuatan untuk menguasainya.

