Internationalmedia.co.id – News – Gedung Putih di Washington DC akhirnya angkat bicara mengenai insiden penembakan fatal kedua yang melibatkan agen imigrasi AS di Minneapolis. Presiden Donald Trump, melalui juru bicaranya, menegaskan tidak ingin ada korban jiwa di jalanan Amerika, menyusul meluasnya kecaman publik atas kematian seorang perawat ICU yang tewas ditembak.
Gelombang protes kembali pecah setelah Alex Pretti (37), seorang perawat ICU, tewas ditembak oleh agen imigrasi federal AS di Minneapolis, Minnesota, pada Sabtu (24/1) waktu setempat. Kematian Pretti menandai insiden fatal kedua dalam beberapa pekan terakhir, setelah sebelumnya Renee Good (37) juga tewas dalam kondisi serupa. Kedua kasus ini memicu kemarahan luas dan pertanyaan serius tentang kebenaran di balik versi resmi insiden tersebut.

Klaim awal dari pemerintahan Trump yang menyatakan agen imigrasi menembak Pretti untuk membela diri karena korban mendekat dengan pistol, kini dibantah oleh rekaman video. Video yang beredar dari lokasi kejadian menunjukkan Pretti justru memegang ponsel, bukan pistol, saat bergulat dengan agen imigrasi sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Ajudan Trump sempat buru-buru melabeli Pretti sebagai "teroris domestik" tanpa bukti. Namun, setelah gelombang kecaman dan protes, Gedung Putih kini menyebut kematian Pretti sebagai "tragedi".
"Tidak ada seorang pun di Gedung Putih, termasuk Presiden Trump, yang ingin melihat orang-orang terluka atau terbunuh di jalanan Amerika," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kepada wartawan pada Senin (26/1). Ia menambahkan, "Kami berduka untuk orang tuanya. Sebagai seorang ibu, tentu saja, saya tidak dapat membayangkan hilangnya nyawa." Meski demikian, Leavitt menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak akan mengendurkan upaya untuk mendeportasi "imigran ilegal kriminal yang melakukan kekerasan" dari Minnesota.
Leavitt kemudian mengalihkan fokus, menyalahkan Partai Demokrat atas kerusuhan yang terjadi. Menurutnya, tragedi ini adalah akibat dari "perlawanan yang disengaja dan bermusuhan" oleh para pemimpin Demokrat di Minnesota selama berminggu-minggu, merujuk pada Gubernur Tim Walz dan Wali Kota Jacob Frey. Keduanya dituduh telah "menyebarkan kebohongan tentang petugas penegak hukum federal yang mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari untuk menyingkirkan para imigran ilegal kriminal terburuk dari jalanan kita," di tengah pengerahan besar-besaran agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) bersenjata lengkap ke Minneapolis yang ditentang warga setempat.
