internationalmedia.co.id – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan kembali menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Meski sempat dilaporkan mengalami penurunan luas area terbakar akibat intensitas hujan, situasi di lapangan justru berbalik arah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya lonjakan signifikan luas lahan yang terbakar, terutama di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Lonjakan ini dipicu oleh fenomena api bawah tanah yang masih menyala di dalam lapisan gambut. Fenomena ini sering kali menipu petugas di lapangan karena meskipun permukaan tanah terlihat basah atau api di permukaan tampak sudah padam setelah diguyur hujan, bara api sebenarnya masih berkobar di kedalaman tanah.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa kondisi di Kalimantan Tengah mengalami kenaikan yang cukup drastis. Berdasarkan data terbaru, luas karhutla di provinsi tersebut melonjak menjadi 547 hektare, atau meningkat sebesar 56 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi serupa juga terjadi di Kalimantan Timur, di mana luas lahan terbakar mencapai 60 hektare dengan persentase kenaikan mencapai 80 persen.
"Kami ingin menginformasikan bahwa di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu memang sempat terjadi hujan. Namun, perlu diingat bahwa karakteristik lahan di sana adalah lahan gambut. Meskipun titik api di permukaan sudah padam karena air hujan, api di bawah permukaan tanah masih tetap ada. Hal inilah yang sangat berpotensi memicu munculnya titik api baru," ujar Berton dalam keterangannya melalui siaran langsung, Selasa (3/11/2026).
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi tim pemadam kebakaran dan relawan di lapangan. Lahan gambut yang kering di bagian dalam dapat menyimpan panas dalam waktu lama, sehingga upaya pemadaman tidak cukup hanya dengan menyiram permukaan, melainkan harus memastikan hingga ke lapisan terdalam.
Meski situasi di Kalimantan sedang memanas, BNPB mencatat adanya perkembangan positif di beberapa provinsi lain di Indonesia. Dalam pemetaan enam provinsi prioritas penanganan karhutla, beberapa wilayah justru menunjukkan tren penurunan luas kebakaran.
Di Papua Selatan, upaya penanganan berhasil menekan luas karhutla hingga turun 25 persen menjadi 455 hektare. Tren penurunan juga terlihat signifikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami penurunan sebesar 48 persen. Sementara itu, di wilayah Sulawesi, Sulawesi Tenggara mencatat luas karhutla sebesar 91 hektare, dan Sulawesi Tengah mengalami penurunan tipis sebesar 4 persen dengan luas lahan terbakar 89 hektare.
Pemerintah melalui BNPB terus memperketat pengawasan di wilayah-wilayah yang masuk dalam zona merah, terutama di Kalimantan, guna mencegah kebakaran meluas yang dapat berdampak pada kabut asap lintas provinsi maupun negara.
