Internationalmedia.co.id – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Amerika Serikat (AS) dalam membahas sebuah rencana perdamaian yang bertujuan mengakhiri konflik di wilayahnya. Zelensky berharap dapat segera berdiskusi langsung dengan Presiden Donald Trump mengenai detail rencana tersebut.
Rencana perdamaian yang terdiri dari 28 poin ini memang belum diumumkan secara resmi kepada publik. Namun, Sekretaris Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan dalam konferensi pers bahwa Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff telah menyusun rencana tersebut secara rahasia selama sebulan terakhir. Leavitt juga menegaskan bahwa Trump memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif perdamaian ini.

"Ini adalah rencana yang baik bagi Rusia dan Ukraina, dan kami yakin akan diterima oleh kedua belah pihak," ujarnya, menekankan bahwa AS memberikan porsi yang setara bagi Moskow dan Kyiv dalam rencana perdamaian tersebut.
Meskipun demikian, sejumlah negara Eropa dikabarkan menentang rencana perdamaian ini. Menurut beberapa sumber, rencana tersebut mewajibkan Ukraina untuk menyerahkan wilayah tambahan dan melucuti sebagian persenjataannya, syarat yang dianggap sebagai bentuk menyerah oleh sekutu-sekutu Kyiv.
Namun, Zelensky, seperti dilansir Reuters, Jumat (21/11/2025), menyatakan bahwa Ukraina dan AS akan bekerja sama dalam beberapa elemen dari rencana perdamaian tersebut. Kantor kepresidenan Ukraina mengonfirmasi bahwa Zelensky baru-baru ini bertemu dengan Menteri Angkatan Darat AS, Daniel Driscoll, di Kyiv, di mana Driscoll menyerahkan draf rencana perdamaian itu pada Kamis (20/11) waktu setempat.
"Tim kami – Ukraina dan AS – akan mengerjakan poin-poin rencana untuk mengakhiri perang," kata Zelensky melalui Telegram. "Kami siap untuk bekerja sama secara konstruktif, jujur, dan cepat," tegasnya.
Kantor kepresidenan Ukraina menambahkan bahwa Zelensky telah "menjabarkan prinsip-prinsip fundamental yang penting bagi rakyat kami." Dalam beberapa hari mendatang, Presiden Ukraina berencana untuk membahas dengan Presiden Trump peluang diplomatik yang ada dan poin-poin penting yang diperlukan untuk mencapai perdamaian.
Menurut sumber yang dikutip Reuters, rencana perdamaian ini merupakan hasil percakapan rahasia antara Witkoff dan Kirill Dmitriev, Utusan Khusus Presiden Rusia Vladimir Putin. Hingga saat ini, Moskow belum memberikan tanggapan resmi.
Rubio, melalui media sosial X, menyatakan bahwa AS akan terus mengembangkan daftar ide potensial untuk mengakhiri perang ini berdasarkan masukan dari kedua belah pihak yang terlibat konflik. Dia menekankan bahwa perdamaian akan membutuhkan konsesi dari Moskow dan Kyiv.
Kolonel Dave Butler, kepala utusan publik militer AS, mengungkapkan bahwa Zelensky telah setuju untuk bergerak cepat menuju kesepakatan dan penandatanganan rencana perdamaian. Butler menegaskan bahwa AS ingin memastikan bahwa ini adalah "rencana yang baik untuk rakyat Ukraina".

