Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman serius terhadap Venezuela. Ia menegaskan kemungkinan serangan militer kedua jika sisa-sisa pemerintahan di negara tersebut tidak menunjukkan kerja sama dalam upaya Washington untuk "memperbaiki" kondisi Venezuela. Ultimatum ini disampaikan tak lama setelah AS melancarkan rentetan serangan militer perdana dan menahan Presiden Nicolas Maduro.
Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat, Trump tidak menyembunyikan keseriusannya. "Kita siap melakukan serangan kedua," kata Trump lugas. Saat ditanya apakah operasi militer lanjutan telah dikesampingkan, ia menimpali, "Tidak, tidak demikian. Jika mereka tidak berperilaku baik, kita akan melancarkan serangan kedua."

Saat ini, Nicolas Maduro mendekam di pusat penahanan di New York, AS, menanti persidangan pada Senin (5/1) atas tuduhan perdagangan narkoba yang menjeratnya. Penangkapan pemimpin Venezuela itu sontak memicu ketidakpastian mendalam mengenai masa depan politik negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut.
Alih-alih mendorong pemilihan umum segera untuk membentuk pemerintahan baru, Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan berfokus bekerja sama dengan anggota rezim Maduro yang tersisa. Tujuannya adalah menindak perdagangan narkoba dan mereformasi industri minyak Venezuela. Dalam sesi tanya jawab terbaru dengan media, Trump menegaskan bahwa fokus utamanya adalah "memperbaiki" Venezuela, sebuah pernyataan yang selaras dengan pandangan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut pemilu saat ini "terlalu dini".
"Yang menjadi fokus kita saat ini adalah semua masalah yang kita hadapi ketika Maduro berkuasa. Kita masih memiliki masalah-masalah tersebut, yang perlu ditangani. Kita akan memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengatasi tantangan dan persoalan tersebut," jelas Trump. Dengan ancaman serangan kedua yang menggantung dan Maduro di balik jeruji besi, masa depan Venezuela kini berada di persimpangan jalan, sangat bergantung pada bagaimana sisa-sisa pemerintahannya menanggapi tuntutan Washington.
