Internationalmedia.co.id – Ketegangan di Tepi Barat kembali memakan korban jiwa. Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bernama Mohammad Hallaq dilaporkan tewas setelah ditembak oleh tentara Israel di Kota Al-Rihiya pada Kamis (16/10). Insiden tragis ini menambah daftar panjang kekerasan yang merenggut nyawa warga sipil di wilayah konflik tersebut.
Menurut laporan AFP, Mohammad Hallaq tewas akibat luka tembak di bagian pinggul. Paman korban, yang juga bernama Mohammad Hallaq, mengungkapkan bahwa keponakannya saat itu sedang duduk di depan rumahnya ketika patroli militer Israel melintas. Saat bersamaan, terjadi konfrontasi antara tentara Israel dan sekelompok pemuda yang lebih tua.

"Tentara menembak langsung ke arah anak-anak muda itu, dan dia (Mohammad Hallaq) terbunuh," ujar sang paman dengan nada pilu. Ia menambahkan bahwa posisi keponakannya saat kejadian berada jauh dari kerumunan pemuda yang terlibat konfrontasi.
Menanggapi insiden ini, pihak militer Israel menyatakan bahwa pasukannya melepaskan tembakan sebagai respons terhadap aksi pelemparan batu yang dilakukan oleh sejumlah orang saat mereka dikerahkan di Al-Rihiya. "Tentara membalas dengan tembakan ke arah para tersangka yang melempar batu. Tembakan telah teridentifikasi," demikian pernyataan resmi dari militer Israel.
Kematian Mohammad Hallaq menambah duka dan kemarahan di kalangan warga Palestina. Insiden ini memicu kecaman dari berbagai pihak yang menyerukan penyelidikan transparan dan akuntabel atas penggunaan kekuatan mematikan oleh tentara Israel. Pertanyaan besar kini muncul: Apakah nyawa seorang anak kecil harus menjadi harga dari konflik yang tak berujung ini?
