Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Internationalmedia.co.id – News mengungkap adanya kesepakatan strategis antara Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kedua negara adidaya ini dilaporkan siap melancarkan serangan terhadap Iran jika situasi mendesak mengharuskan, sebuah konsensus yang tercapai dalam pertemuan rahasia antara pejabat militer tingkat tinggi.
Pertemuan krusial yang menjadi dasar kesepakatan ini berlangsung di Tel Aviv pada Minggu lalu, melibatkan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper, dan sejumlah pejabat militer senior Israel. Dilansir Middle East Monitor, diskusi intensif tersebut mencakup berbagai isu, terutama dinamika dengan Iran. Media Israel Channel 14 kemudian membocorkan detail pertemuan tersebut, menyebutkan bahwa para peserta memiliki pandangan yang selaras dan sepakat untuk mempererat kerja sama militer kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, para pejabat AS menegaskan bahwa kesiapan penuh untuk menghadapi Iran memang membutuhkan waktu dan persiapan matang. Namun, mereka menekankan bahwa Washington selalu siap untuk mengambil tindakan konkret. Komandan Cooper, menurut Kantor Berita Ma’an Palestina, menggarisbawahi bahwa strategi AS dalam potensi serangan akan didasarkan pada operasi yang cepat, mendadak, dan bersih. Lebih lanjut, AS memandang perubahan rezim di Iran sebagai kebutuhan utama, dengan target serangan yang diperkirakan akan menyasar individu-individu yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan terhadap warga sipil dan demonstran.
Secara terpisah, Komandan CENTCOM juga menegaskan komitmen teguh Amerika Serikat untuk melindungi sekutunya di Timur Tengah, termasuk Israel, dan tidak akan membiarkan mereka terluka, seperti dilaporkan Channel 14. Komitmen ini diperkuat dengan pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya ke Timur Tengah pada Senin (26/1) waktu setempat, yang secara signifikan meningkatkan kekuatan militer AS di kawasan tersebut.
Pengerahan aset militer ini terjadi di tengah penumpasan keras Iran terhadap demonstran massal. Meskipun Presiden Donald Trump kemudian melunakkan ancaman aksi militernya, ia tetap bersikeras bahwa "semua opsi tetap terbuka." Trump bahkan menyebut bahwa "armada besar" telah dikerahkan ke dekat Iran, melebihi pengerahan aset militer ke Venezuela sebelumnya. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengindikasikan bahwa situasi dengan Iran "sedang berubah-ubah" dan bahwa Teheran tertarik untuk mencapai kesepakatan, bahkan telah "menelepon berkali-kali" untuk berdialog.
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Sebagai respons terhadap eskalasi ini, Teheran meluncurkan mural baru di Alun-alun Enghelab pada Minggu (25/1) waktu setempat, yang secara langsung memperingatkan AS agar tidak melancarkan serangan militer baru. Mural tersebut, seperti dilansir Associated Press dan Al Arabiya, menampilkan pesawat-pesawat yang rusak di dek penerbangan kapal induk, disertai slogan provokatif: "Jika ingin menebar angin, Anda akan menuai badai." Peringatan ini diperkuat oleh Komandan Garda Revolusi Iran sehari sebelumnya, yang menyatakan bahwa pasukannya "lebih siap dibandingkan sebelumnya, dengan jari ada di pelatuk."
Dengan kesepakatan strategis antara AS dan Israel, serta pengerahan kekuatan militer besar-besaran di satu sisi, dan peringatan keras dari Iran di sisi lain, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, menunggu langkah selanjutnya dari para pemain utama.
