Jakarta – Sebuah langkah strategis telah diambil untuk mengakselerasi pembangunan kawasan perdesaan di Indonesia dan Malaysia. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto bersama Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, pada Kamis (17/9). Penandatanganan ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, menandai komitmen kuat kedua negara untuk mempererat kerja sama bilateral demi kesejahteraan masyarakat desa.
Yandri Susanto menegaskan harapannya agar MoU ini tidak sekadar menjadi dokumen formal tanpa implementasi. "Kami berharap MoU ini bukan hanya sekadar dokumen yang tak bernilai, tapi kami ingin implementasi itu bisa dieksekusi, karena sejatinya kita diberi mandat oleh rakyat, ingin memberikan yang terbaik buat kesejahteraan rakyat," ujar Yandri dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id. Sebagai tindak lanjut, kedua belah pihak akan segera membentuk Tim Kerja yang bertugas mematangkan rencana dan program konkret.

Tim kerja tersebut akan mengadopsi model pengembangan desa yang telah digagas Kemendes PDT, termasuk program unggulan seperti desa ekspor. Yandri mencontohkan keberhasilan program ini, "Kami punya desa ekspor. Saya sebagai Menteri Desa sudah melepas ekspor perdana dari Jawa Timur di Kabupaten Pacitan, gula aren organik ke Malaysia." Ia optimis kerja sama ini akan membuka lebih banyak pintu bagi produk-produk lokal dari desa-desa di Tanah Air untuk menembus pasar Malaysia.
Selain desa ekspor, fokus kerja sama juga diarahkan pada pengembangan desa wisata. Melalui promosi bersama dan kunjungan wisatawan dari kedua negara, desa-desa di Indonesia dan Malaysia diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung, sekaligus meningkatkan perekonomian lokal. "Pengembangan kerja sama dilakukan melalui pertukaran pengalaman dan data antara Indonesia dan Malaysia dalam pembangunan perdesaan," tambah Yandri, menyoroti pentingnya pembelajaran timbal balik.
Di tengah optimisme ini, Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Dari total 75.266 desa, masih banyak yang tergolong desa tertinggal dan sangat tertinggal. Menanggapi hal ini, Wakil PM Malaysia Ahmad Zahid Hamidi turut menyatakan harapannya agar sinergi antara Indonesia dan Malaysia mampu melahirkan program akselerasi yang signifikan. Ia menargetkan kerja sama ini dapat memberikan dampak langsung terhadap kemajuan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kedua negara. "Kita berharap kerja sama ini bisa kita laksanakan dengan sebaik-baiknya," pungkasnya.
Lingkup kerja sama yang disepakati mencakup berbagai aspek krusial. Ini meliputi peningkatan kapasitas pengelolaan desa, digitalisasi untuk mendorong kemajuan perdesaan, pengembangan kewirausahaan serta usaha-usaha desa, ekowisata dan agrowisata, penyediaan pendidikan dan pelatihan vokasi serta teknis bagi pemuda desa, hingga program-program pengentasan kemiskinan. Seluruh poin ini dirancang untuk menciptakan ekosistem desa yang lebih mandiri dan sejahtera.
Agenda penting ini turut dihadiri oleh Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Muzafar Shah Mustafa, beserta jajaran pejabat dari Kementerian Kemajuan Desa dan Kementerian Luar Negeri Malaysia. Dari pihak Indonesia, Mendes Yandri didampingi oleh Wamendes PDT Ahmad Riza Patria, Sekjen Kemendes Taufik Madjid, serta para Pejabat Tinggi Madya dan Pratama Kemendes PDT, menunjukkan keseriusan kedua belah pihak dalam mengawal implementasi kerja sama ini.
