Serangan mendadak Israel ke Doha, Qatar, mengejutkan dunia. Internationalmedia.co.id melaporkan, aksi militer Israel ini menuai kecaman keras dari berbagai negara. Pihak berwenang Israel menyatakan serangan tersebut menyasar para pemimpin senior Hamas yang berada di Doha, markas biro politik kelompok tersebut.
Militer Israel, mengutip pernyataan resmi yang dirilis AFP, Selasa (9/9), menegaskan serangan dilakukan secara presisi untuk menargetkan pemimpin Hamas yang dianggap bertanggung jawab atas insiden pembantaian di Israel pada 7 Oktober 2023. Mereka menyebut para pemimpin Hamas tersebut telah memimpin operasi terorisme selama bertahun-tahun dan berperan penting dalam konflik dengan Israel.

Reaksi keras pun berdatangan. Gedung Putih menyatakan Presiden Trump tidak menyetujui tindakan Israel tersebut, bahkan mengklaim telah memperingatkan Qatar sebelumnya. Namun, Qatar membantah menerima peringatan tersebut hingga serangan terjadi. Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS yang besar, mengecam serangan yang menargetkan rumah beberapa anggota biro politik Hamas. Presiden Trump sendiri mengaku "tidak senang dengan situasi ini". Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan satu anggota pasukan keamanan tewas dan beberapa lainnya luka-luka.
Arab Saudi dan Iran turut mengecam keras serangan Israel. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut tindakan Israel sebagai agresi brutal dan pelanggaran kedaulatan Qatar, seraya menegaskan solidaritas dan memperingatkan konsekuensi serius atas pelanggaran hukum internasional. Iran, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan kedaulatan Qatar.
Hamas melaporkan sedikitnya enam orang tewas dalam serangan udara tersebut, termasuk anak dari negosiator utama mereka, Khalil al-Hayya. Meskipun demikian, Hamas mengklaim para pemimpin senior mereka di Doha berhasil selamat. Mereka menyebut tiga pengawal dan seorang ajudan al-Hayya termasuk dalam daftar korban. Pernyataan Hamas menekankan kegagalan Israel untuk membunuh para pemimpin delegasi negosiasi. Insiden ini semakin memanaskan situasi geopolitik di Timur Tengah.
