Internationalmedia.co.id – News – Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara mengejutkan mengakui bahwa Washington telah mengirimkan sejumlah besar senjata dengan tujuan mempersenjatai para demonstran di Iran. Namun, upaya ini gagal total setelah persenjataan tersebut dilaporkan diambil alih oleh kelompok tak dikenal dan tidak pernah sampai ke tangan para demonstran yang seharusnya menerimanya. Pengakuan yang dilansir oleh AFP dan Al Arabiya ini disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (6/4) waktu setempat, bertepatan dengan acara Paskah.
Trump menjelaskan bahwa kiriman senjata itu dimaksudkan untuk membantu gerakan antipemerintah dalam melawan otoritas Teheran. "Kami telah mengirimkan senjata, banyak senjata, senjata-senjata itu seharusnya diberikan kepada rakyat agar mereka dapat melawan para preman ini," ujar Trump dalam pernyataannya. Ia menambahkan dengan nada kecewa, "Tahukah Anda apa yang terjadi? Orang-orang yang menerima senjata itu menyimpannya."

Presiden AS itu menyatakan kekecewaannya yang mendalam terhadap "kelompok orang tertentu" dan memperingatkan bahwa mereka akan "membayar mahal" atas tindakan tersebut, tanpa merinci identitas kelompok yang dimaksud. Namun, laporan dari seorang reporter Fox News pada Minggu (5/4) mengindikasikan bahwa Trump menyalahkan perantara Kurdi sebagai pihak yang mengambil alih pasokan senjata yang ditujukan untuk pembangkang Iran.
Dalam kesempatan terpisah, Trump juga mengklaim bahwa AS memiliki "banyak penyadapan" dari warga sipil Iran yang disebut-sebut mendesak Washington untuk terus berupaya menggulingkan pemerintah dari kekuasaan. "Mereka (warga sipil Iran) rela menderita demi kebebasan," klaim Trump, meskipun ia tidak menyertakan bukti konkret untuk mendukung pernyataannya tersebut.
Situasi semakin memanas setelah Trump, dalam konferensi pers sebelumnya di Gedung Putih, mengancam akan menghancurkan Iran dalam semalam. Ia memberikan ultimatum kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata paling lambat pada Selasa (7/4) malam, atau menghadapi serangan pengeboman AS yang lebih luas. "Seluruh negara dapat dihancurkan dalam semalam. Dan malam itu mungkin besok malam," tegas Trump. Ia menambahkan, "Saya harap saya tidak perlu melakukannya."
Tenggat waktu yang ditetapkan Trump mengharuskan Iran untuk melepaskan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, AS mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya di Iran. Pernyataan-pernyataan ini semakin memperkeruh hubungan tegang antara kedua negara.

