Internationalmedia.co.id – News – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, yang menjadi penghubung antara Lampung dan Banten, kini telah ditingkatkan ke status Level III atau Siaga. Peningkatan status ini memicu seruan kewaspadaan tinggi bagi seluruh warga yang bermukim di pesisir pantai serta kapal-kapal yang melintasi perairan vital tersebut.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan peningkatan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Jumat (3/7/2026). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa keputusan ini didasarkan pada hasil pemantauan visual dan instrumental yang secara konsisten menunjukkan peningkatan signifikan dalam suplai magma menuju permukaan. Oleh karena itu, masyarakat dan wisatawan diimbau keras untuk tidak mendekati kawah aktif dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten, Raden Yogie Nugraha, melalui internationalmedia.co.id, mengeluarkan arahan penting bagi keselamatan pelayaran. Seluruh nakhoda, pemilik kapal, perusahaan pelayaran, dan pengguna jasa angkutan laut di Selat Sunda diminta untuk:
- Meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi letusan, lontaran material vulkanik, dan abu.
- Senantiasa memantau informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, serta instansi terkait.
- Patuh pada larangan mendekati kawah aktif dalam radius 5 kilometer.
- Merencanakan pelayaran dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan arah sebaran abu vulkanik.
- Segera melaporkan indikasi bahaya kepada pihak berwenang seperti VTS atau Syahbandar terdekat.
- Memprioritaskan keselamatan pelayaran sesuai regulasi yang berlaku.
Di daratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Banten, juga bergerak cepat mengimbau masyarakat pesisir. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang, Acep Firmansyah, meminta warga untuk tetap tenang namun tidak lengah. Meskipun aktivitas sehari-hari seperti jual beli di pasar dan pelayanan kesehatan di puskesmas tetap berjalan normal, Acep menekankan pentingnya kewaspadaan dan larangan mendekati zona bahaya 5 kilometer dari GAK untuk menghindari risiko lontaran bebatuan pijar. Kenangan pahit tsunami 2018 masih membekas di benak warga, seperti Suherman dari Labuan, yang menyatakan mereka tetap berjaga-jaga.
Sementara itu, para nelayan di Kabupaten Pandeglang menunjukkan keteguhan mereka. Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ranting Labuan, Jumami, pada Minggu (5/7/2026), mengungkapkan bahwa nelayan tetap melaut seperti biasa. Mereka mengaku telah terbiasa dengan fluktuasi aktivitas GAK dan menganggap mencari ikan sebagai kebutuhan pokok keluarga. "Kalau misalnya dilarang melaut, yang menjamin kehidupan nelayan siapa?" ucap Jumami. Ia juga menambahkan bahwa saat ini nelayan sedang menghadapi musim paceklik, dengan hasil tangkapan yang menurun antara 5 hingga 10 persen, menambah beban kekhawatiran mereka.
Dengan status Siaga Level III yang masih berlaku, koordinasi antara otoritas maritim, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama. Kewaspadaan berkelanjutan dan kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan diharapkan dapat meminimalkan risiko dari potensi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
