Internationalmedia.co.id – News – Kota Serang kini menghadapi ancaman serius. Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Serang melaporkan bahwa hampir setiap hari dalam sepekan terakhir, mereka menerima laporan kebakaran lahan. Kondisi cuaca panas ekstrem dan angin kencang di musim kemarau ini menjadi pemicu utama, membuat lahan kering sangat rentan terbakar dan berpotensi menimbulkan bencana.
Situasi ini menggambarkan betapa gentingnya kondisi di lapangan. Kasi Dalops Damkar Kota Serang, Asep Setiawan, mengungkapkan bahwa laporan kebakaran didominasi oleh area ilalang kering, meskipun insiden pembakaran sampah juga beberapa kali terjadi. Puncak laporan terjadi pada Sabtu (23/7) dengan 12 kejadian dalam satu hari, menunjukkan intensitas masalah yang luar biasa dan membebani kinerja petugas.

Salah satu insiden terbaru terjadi pada Rabu (29/7) malam, sekitar pukul 20.00 WIB, di kawasan Perumahan BMS. Dua unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan dan berhasil memadamkan api sekitar pukul 21.00 WIB. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Asep menduga, kebakaran tersebut bisa jadi dipicu oleh gesekan ranting pohon yang mengering akibat teriknya matahari. "Penyebab pasti belum diketahui, namun kemungkinan besar akibat cuaca panas ini banyak ranting saling bergesekan hingga menimbulkan api," jelas Asep kepada internationalmedia.co.id.
Menanggapi kondisi darurat ini, Wali Kota Serang, Budi Rustandi, tidak tinggal diam. Beliau telah mengeluarkan surat edaran kepada para lurah dan camat, menginstruksikan mereka untuk mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menjaga lingkungan. "Kami sudah memberikan imbauan yang ditandatangani langsung oleh Bapak Wali Kota, agar masyarakat lebih waspada menjaga lingkungan di tengah cuaca ekstrem ini," tambah Asep.
Damkar Kota Serang juga tak henti-hentinya mengingatkan warga. "Kepada masyarakat, mohon jaga lingkungan. Jangan membakar sampah sembarangan, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan jika membuat api pastikan tidak ditinggalkan begitu saja," tegas Asep, menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk mencegah bencana yang lebih besar di tengah musim kemarau yang masih panjang.
