Internationalmedia.co.id – News – Inggris dan Prancis secara kompak melancarkan serangan udara gabungan terhadap target kelompok teroris Islamic State (ISIS) di Suriah pada Minggu (4/1). Aksi militer ini ditegaskan sebagai upaya krusial untuk membendung potensi kebangkitan kembali kelompok ekstremis tersebut di wilayah yang rentan.
Militer Prancis, dalam pernyataan resminya yang dikutip Senin (5/1), menjelaskan bahwa serangan ini merupakan bagian integral dari Operation Inherent Resolve. Ini adalah operasi internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dengan misi utama memerangi ISIS di berbagai wilayah, termasuk Irak, Suriah, dan Libya.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi keterlibatan mereka. Mereka menyatakan telah bekerja sama dengan Prancis pada Sabtu (3/1) malam untuk membombardir sebuah fasilitas bawah tanah di Suriah. Lokasi ini diyakini kuat digunakan oleh ISIS sebagai gudang penyimpanan persenjataan dan bahan peledak.
"Pesawat-pesawat Angkatan Udara Kerajaan (Inggris) telah menyelesaikan serangan yang sukses terhadap Daesh (nama Arab untuk ISIS) dalam operasi gabungan dengan Prancis," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Inggris. Mereka menambahkan bahwa fasilitas tersebut "telah diduduki oleh Daesh, kemungkinan besar untuk menyimpan senjata dan peledak," dan secara spesifik menyebutkan bahwa "area di sekitar fasilitas tersebut tidak dihuni oleh warga sipil," sehingga tidak menimbulkan risiko bagi penduduk setempat.
Kementerian Pertahanan Inggris juga memastikan bahwa tidak ada indikasi pengeboman di area sebelah utara situs kuno Palmyra itu menimbulkan risiko bagi warga sipil. Melalui platform media sosial X, Angkatan Bersenjata Prancis juga menegaskan bahwa sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, kedua negara sekutu NATO ini "melancarkan serangan-serangan terhadap posisi kelompok teroris Islamic State." Mereka menggarisbawahi pentingnya misi ini: "Mencegah kebangkitan kembali Daesh merupakan isu utama bagi keamanan kawasan."
Meskipun ISIS telah dikalahkan secara teritorial di Suriah pada tahun 2019, kelompok radikal ini masih mempertahankan keberadaannya, terutama di area gurun yang luas. Mencegah ISIS mendapatkan kembali kekuatannya menjadi prioritas utama bagi komunitas internasional, terutama saat Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, yang juga mantan jihadis, berupaya memperkuat keamanan di Suriah setelah menggulingkan mantan Presiden Bashar al-Assad lebih dari setahun lalu.
Situs kuno Palmyra, yang terdaftar di UNESCO, pernah menjadi basis kekuasaan para petempur jihadis. Bulan lalu, insiden penyerangan oleh seorang pria bersenjata ISIS di Palmyra menewaskan dua tentara AS dan seorang warga sipil AS. Sebagai respons, pasukan militer Washington telah melancarkan serangan balasan terhadap puluhan target ISIS di wilayah Suriah.
