Pengiriman senjata nuklir Amerika Serikat (AS) ke Inggris secara diam-diam telah mengejutkan banyak pihak. Internationalmedia.co.id melaporkan, berdasarkan analisis data penerbangan open-source, sebuah pesawat militer AS terdeteksi terbang dari Pangkalan Udara Kirtland, New Mexico – markas Pusat Senjata Nuklir Angkatan Udara AS – menuju Pangkalan Udara Lakenheath, Inggris Timur. Kejadian ini, jika dikonfirmasi, akan menjadi yang pertama kalinya dalam 17 tahun terakhir.
Para analis menunjuk pada pesawat angkut C-17 yang terlacak melakukan perjalanan transatlantik pada 17 Juli lalu. Mereka menduga pesawat tersebut membawa bom nuklir, mengingat Pangkalan Udara Kirtland merupakan lokasi penyimpanan utama senjata nuklir AS. William Alberque, mantan kepala pusat non-proliferasi nuklir NATO, bahkan berspekulasi bahwa pesawat tersebut "menurunkan senjata" di Inggris sebelum kembali ke AS.

Pihak Pentagon menolak berkomentar mengenai lokasi senjata strategisnya, sementara Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan tetap pada kebijakan lama untuk tidak mengkonfirmasi atau menyangkal keberadaan senjata nuklir di lokasi tertentu. Sikap misterius kedua negara ini semakin memperkuat spekulasi mengenai pengiriman senjata nuklir tersebut.
Situasi ini semakin menarik mengingat rencana Inggris untuk membeli 12 jet tempur siluman F-35A yang mampu membawa senjata nuklir. Jet-jet ini akan ditempatkan di Pangkalan Udara Marham, tak jauh dari Lakenheath. Pemerintah Inggris sendiri menyatakan pembelian ini menandai kembalinya peran nuklir bagi Angkatan Udara Kerajaan setelah sekian lama.
Apakah pengiriman senjata nuklir AS ke Inggris ini menandakan perubahan signifikan dalam strategi pertahanan Atlantik Utara? Pertanyaan ini masih menjadi misteri yang perlu diungkap. Keheningan dari kedua pemerintah hanya menambah teka-teki di balik operasi rahasia ini.
