Presiden terpilih Prabowo Subianto secara tegas menyoroti pentingnya stabilitas pemerintahan dalam pidatonya. Ia juga menanggapi isu mengenai kabinetnya yang disebut ‘gemuk’ dengan perbandingan tak terduga. Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam acara penutupan Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Senin 31 Agustus 2026. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa Prabowo menekankan efisiensi koalisi pemerintahannya yang besar.
Menurut Prabowo, koalisi yang ia pimpin saat ini, yang melibatkan tujuh dari delapan partai di DPR RI, adalah bentuk efisiensi yang luar biasa. Ia menekankan bahwa stabilitas politik adalah kunci, merujuk pada contoh negara maju. "Kita ini sekarang delapan partai sudah luar biasa efisiennya," ujar Prabowo, seperti dikutip internationalmedia.co.id. Ia kemudian membandingkan dengan situasi politik di negara lain. "Kita lihat di Jepang walaupun hanya dua partai besar, tapi dalam 5-6 tahun berapa kali ganti Perdana Menteri. Di Inggris dalam 5 tahun mungkin 7-8 kali Perdana Menteri. Jadi bagaimanapun pemerintahan membutuhkan stabilitas, ketenangan," tambahnya, menegaskan bahwa koalisi besar justru bisa menjadi penopang stabilitas.

Menanggapi kritik yang menyebut kabinetnya kelak akan ‘gemuk’ dan tidak efisien, Prabowo memberikan perspektif yang mengejutkan. Ia membandingkan rencana susunan kabinetnya dengan negara tetangga, Timor Leste. "Dan kabinet yang saya susun pernah dikatakan kabinet gemuk, tidak efisien," ungkap Prabowo.
Prabowo menjelaskan, "Padahal ada negara Timor Leste yang jumlah penduduknya hanya 1 juta, lebih kecil dari banyak provinsi di Indonesia. Mereka hanya 1,1 juta, kabinetnya 28. Kabinetnya Timor Leste 28," tegasnya, menyoroti bahwa jumlah menteri tidak selalu berkorelasi langsung dengan efisiensi atau ukuran populasi, melainkan kebutuhan dan stabilitas pemerintahan.
