Jalur pejalan kaki yang seharusnya menjadi ruang aman bagi warga, di Jalan Alternatif Sentul, Desa Cijujung, Kecamatan Sukaraja, Bogor, Jawa Barat, kini menjadi pemandangan miris. Trotoar yang belum lama direnovasi ini telah rusak parah, diduga akibat intensitas tinggi kendaraan roda dua yang menjadikannya jalur pintas. Internationalmedia.co.id – News menelusuri alasan di balik fenomena ini, yang menurut warga setempat, berakar pada keengganan pemotor untuk menempuh putaran balik yang memakan waktu dan jarak.
Amir (58), seorang warga yang sehari-hari berjualan batu akik di lokasi, mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna trotoar adalah para pengantar siswa menuju sekolah menengah pertama yang berada di balik perumahan setempat. "Ada SMP di belakang perumahan sini. Kalau harus putar balik, jaraknya cukup jauh, makanya mereka memilih lewat sini saja," jelas Amir, Kamis (6/8/2026).

Ia menambahkan, keberadaan petugas kepolisian lalu lintas di sekitar lokasi memang sempat membuat para pemotor mengurungkan niatnya melintasi trotoar. Namun, ketiadaan penjagaan rutin membuat praktik ini kembali marak. "Kalau ada polisi, motor tidak berani masuk, tapi kalau tidak ada, ya lewat lagi semua," imbuhnya. Tidak hanya pengantar siswa, Amir juga mencatat bahwa beberapa pedagang keliling, seperti penjual tempe, sesekali turut menggunakan jalur ilegal ini.
Kondisi ini sangat disayangkan Amir, mengingat trotoar tersebut baru saja rampung direnovasi. "Memang baru-baru ini saja rusaknya. Baru dibangun sudah pada hancur karena motor masuk ke situ semua," keluhnya, menunjukkan kekecewaannya atas kerusakan infrastruktur publik yang baru.
Senada dengan Amir, Ahmad (70), warga lain di sekitar lokasi, juga membenarkan fenomena ini. Baginya, pemandangan pemotor melintasi trotoar sudah menjadi rutinitas harian. "Sudah biasa sekali. Mungkin mereka malas muter karena jauh," ujar Ahmad, yang setiap pagi berada di area tersebut dan menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Dari pantauan tim internationalmedia.co.id di lokasi, kepadatan pemotor yang melintasi trotoar terlihat jelas terutama pada jam-jam keberangkatan siswa menuju sekolah, dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Dalam hitungan menit, selalu ada saja pengendara motor yang nekat menggunakan jalur pejalan kaki ini. Akibatnya, kondisi trotoar kini memprihatinkan. Banyak titik yang hancur, batuan paving pecah dan berserakan, meninggalkan jejak kerusakan parah pada infrastruktur yang seharusnya melayani kenyamanan dan keamanan pejalan kaki. Fenomena ini menyoroti dilema antara efisiensi waktu pribadi dan kepatuhan terhadap aturan serta pemeliharaan fasilitas umum.
