Jakarta – Sebuah usulan krusial tengah bergulir di parlemen, di mana Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mempertimbangkan secara serius proposal Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Usulan tersebut adalah agar penderita tuberkulosis (TBC) dapat menjadi salah satu penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Internationalmedia.co.id – News melaporkan, langkah ini dinilai penting untuk menunjang pemulihan pasien TBC.
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menyambut baik inisiatif Menkes. Ia menegaskan, "Saya menghargai permintaan Menkes untuk memberikan MBG kepada penderita TBC, karena akan meringankan beban penyakitnya." Yahya menjelaskan, saat ini BGN memang sedang memfokuskan ulang penerima MBG, dengan mengurangi porsi bagi siswa dari keluarga mampu dan memprioritaskan kelompok ‘3B’ – ibu hamil, ibu menyusui, dan balita – sebagai upaya pencegahan stunting.

Meski demikian, Yahya menyoroti bahwa target penerima manfaat dari kelompok 3B masih jauh dari harapan, baru mencapai 38% dari 25 juta jiwa. Politikus Partai Golkar itu berharap usulan Menkes untuk pasien TBC dapat diakomodasi, mengingat angka kasus TBC di Indonesia sangat mengkhawatirkan. "Kasus TBC di Indonesia sangat tinggi. Ada sekitar 1 juta kasus dan sekitar 125 ribu kematian setiap tahun, menjadikan Indonesia nomor dua di dunia setelah India. Penanganan TBC, termasuk pemenuhan gizinya, harus menjadi prioritas," tegasnya.
Senada dengan Yahya, anggota Komisi IX DPR dari Fraksi NasDem, Irma Suryani Chaniago, juga melihat usulan Menkes sebagai hal yang sangat relevan. Irma mengungkapkan fakta bahwa banyak penderita TBC yang memang mengalami masalah gizi. "Harus diakui penderita TBC rata-rata diidap oleh pasien dengan kondisi gizi buruk. Oleh karena itu, wajar jika Pak Menteri ingin agar penderita TBC menjadi salah satu penerima manfaat MBG," jelas Irma.
Namun, Irma mengingatkan pentingnya perhatian terhadap mekanisme pendistribusian program MBG. Akurasi data penerima manfaat, terutama ‘data by name by address’ pasien, harus dipastikan agar bantuan tepat sasaran. Ia menambahkan, Komisi IX telah bersepakat untuk mengevaluasi tata kelola MBG secara menyeluruh, mulai dari SDM daerah hingga pusat, petunjuk pelaksanaan dan teknis anggaran, hingga kualitas menu. "Semoga setelah semua dievaluasi, MBG akan makin baik dan tepat sasaran," harapnya.
Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin secara langsung mengusulkan agar penderita TBC diikutsertakan dalam program MBG. Berbicara di kompleks parlemen, Senayan, pada Selasa (23/6), Budi Gunadi menjelaskan bahwa asupan gizi yang memadai sangat krusial untuk mempercepat pemulihan pasien TBC. "Dari hasil penelitian jurnal-jurnal internasional dan sudah diterapkan juga di India dan China, orang yang penderita TBC diobati selama enam hingga dua belas bulan itu daya tahan kondisi fisiknya lemah. Sehingga kalau dia bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup atau sedikit lebih, itu akan memperkuat dan mempercepat pemulihannya," paparnya.
Budi Gunadi juga mengungkapkan data mengerikan tentang TBC di Indonesia: dua kasus kematian terjadi setiap lima menit. Ia mengaku telah menyampaikan usulannya ini kepada Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang. "Jadi kita ngomong lima menit, yang meninggal dua di Indonesia TBC. Itu sebabnya kemarin saya bicara dengan Ibu Nanik kan ingin meningkatkan, memfokuskan penyaluran MBG targetnya ke siapa saja," kata Budi Gunadi. Ia menambahkan, "Saya bilang, Bu, MBG itu sangat membantu saya memecahkan masalah kesehatan karena gizi itu adalah faktor risiko yang besar, sama seperti polusi udara itu faktor risiko yang di luar wewenang saya ada di Ibu sekarang, tapi saya sangat butuh itu bagus."
