Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam wawancara eksklusif dengan Channel 12 Israel, menyatakan bahwa pengakuan negara Palestina merupakan langkah paling efektif untuk mengisolasi kelompok Hamas. Pernyataan ini disampaikan Macron menyusul serangan besar-besaran Israel di Jalur Gaza, seperti yang dilaporkan Internationalmedia.co.id mengutip AFP dan Al Arabiya.
Macron menekankan, pengakuan tersebut akan mengirimkan pesan kuat: "Perspektif sah rakyat Palestina dan penderitaan mereka saat ini tidak ada hubungannya dengan Hamas." Ia menegaskan kembali kecamannya terhadap serangan Israel yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil di Gaza. Angka korban jiwa, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui kredibilitasnya oleh PBB, telah mencapai lebih dari 65.141 jiwa.

Prancis, bersama beberapa negara Eropa lainnya, berencana mengakui negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB bulan ini. Langkah ini bertujuan untuk menyingkirkan pengaruh Hamas dan membuka jalan bagi solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung lama – sebuah proposal yang ditolak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Macron memperingatkan bahwa penundaan pengakuan negara Palestina akan semakin mempersulit terwujudnya solusi dua negara, mengingat ekspansi pemukiman Israel di Tepi Barat.
Macron mengkritik keras operasi militer Israel di Gaza, menyebutnya kontraproduktif dan merusak citra serta kredibilitas Israel di mata dunia. Serangan darat besar-besaran Israel di Gaza, yang disebut sebagai upaya menghancurkan militan Hamas, justru dinilai Macron semakin memperburuk situasi dan menimbulkan korban jiwa sipil yang sangat besar. Ia menilai operasi tersebut sebagai kegagalan strategis.
