Internationalmedia.co.id – Ketegangan antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) mencapai titik nadir. Presiden Korsel, Lee Jae Myung, memperingatkan bahwa kedua negara kini berada dalam "situasi yang sangat berbahaya" dengan potensi bentrokan tak disengaja yang bisa terjadi kapan saja.
Lee menekankan pentingnya dialog dengan Pyongyang, namun sayangnya, Korut terus mengabaikan seruan Korsel untuk berunding. Lebih lanjut, Korut justru memperkuat perbatasan militer dengan memasang pagar kawat berduri, sebuah tindakan yang belum pernah terjadi sejak Perang Korea berakhir pada tahun 1953.

"Hubungan antar-Korea telah menjadi sangat bermusuhan dan konfrontatif," ujar Lee kepada wartawan dalam perjalanan dari Afrika Selatan menuju Turki, usai menghadiri KTT G20. "Tanpa adanya rasa saling percaya, bahkan yang paling mendasar sekalipun, Korea Utara menunjukkan perilaku yang sangat ekstrem."
Korsel telah mengusulkan perundingan militer pada 17 November lalu, dengan tujuan menetapkan batas yang jelas di sepanjang Garis Demarkasi Militer (MDL) untuk mencegah bentrokan bersenjata yang berpotensi memicu konflik yang lebih besar. Namun, hingga saat ini, Pyongyang belum memberikan tanggapan.
Sepanjang tahun ini, internationalmedia.co.id mencatat lebih dari 10 pelanggaran perbatasan oleh tentara Korut. Beberapa insiden bahkan memaksa pasukan Korsel untuk melepaskan tembakan peringatan sesuai dengan protokol yang berlaku.
Lee mengakui bahwa mencapai perdamaian dengan Korut akan menjadi upaya jangka panjang. Namun, ia juga menyatakan bahwa setelah rezim perdamaian yang kuat terbentuk, akan lebih baik bagi Korsel dan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan latihan militer gabungan.
Korut selama ini mengecam keras latihan militer gabungan antara Seoul dan sekutu-sekutunya, termasuk Washington, dengan menuduh latihan tersebut sebagai "geladi resik" untuk perang nuklir melawan negaranya. Saat ini, sekitar 28.500 tentara dan sistem persenjataan AS ditempatkan di pangkalan militer di Korsel.
