Internationalmedia.co.id – Kebakaran dahsyat melanda sebuah apartemen di Hong Kong, merenggut nyawa 128 orang. Seorang Asisten Rumah Tangga (ART) asal Indonesia, Fita, berbagi kisah pilunya tentang kebingungan dan ketakutan yang melanda kompleks apartemen bertingkat tinggi itu saat dilalap api pada Rabu lalu.
Di tengah hiruk pikuk sirene, puing-puing berjatuhan, dan aroma asap yang menyesakkan, Fita dengan panik memberitahu majikannya tentang kebakaran tersebut. Namun, sang majikan awalnya meragukan perkataannya. Setelah melihat sendiri dua gedung terbakar di kompleks Wang Fuk Court, Fita kembali mendesak, "Saya langsung bicara dengan majikan saya – saya bilang Anda harus turun sekarang."

"Rasanya menakutkan. Saya hampir menangis karena melihat banyak orang kebingungan," ungkap Fita (49), seperti dilansir Reuters, Sabtu (29/11/2025). Fita dan majikannya berhasil menyelamatkan diri dan kini tinggal di penampungan darurat.
Fita kini tak henti-hentinya berdoa bagi mereka yang masih hilang. Ia juga berusaha mencari teman-temannya di antara puluhan pekerja migran yang tinggal di kompleks delapan gedung hunian tersebut, yang tujuh di antaranya hangus terbakar. Hong Kong kini tengah menjalani masa berkabung selama tiga hari untuk menghormati 128 korban jiwa, menjadikannya salah satu kebakaran paling mematikan di wilayah itu sejak tahun 1948. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah, mengingat 200 orang lainnya masih belum ditemukan.
Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hong Kong mengonfirmasi bahwa jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban tewas dalam kebakaran tersebut telah bertambah menjadi tujuh orang. Informasi ini diperoleh setelah KJRI Hong Kong berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat. "Berdasarkan hasil koordinasi dengan Hong Kong Police Force, hingga saat ini, WNI yang menjadi korban meninggal dunia total berjumlah 7 orang," demikian pernyataan tertulis KJRI Hong Kong, seperti dilansir Antara, Sabtu (29/11/2025).
Sementara itu, pemerintah Filipina melaporkan bahwa satu warga negaranya mengalami luka kritis, satu orang hilang, dan 28 orang lainnya diduga tinggal di daerah tersebut, namun keberadaan mereka belum diketahui.