Internationalmedia.co.id – News – Indonesia, yang seharusnya tengah menikmati puncak musim kemarau, justru dihadapkan pada fenomena alam yang membingungkan: banjir bandang dan luapan air melanda sejumlah wilayah. Anomali cuaca ini tercatat di berbagai daerah, mulai dari Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, Agam di Sumatera Barat, hingga Sinjai di Sulawesi Selatan, memaksa ratusan warga mengungsi dari rumah mereka.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, pada Minggu (19/7), menyoroti adanya "anomali kejadian" berupa banjir bandang di Kabupaten Agam. Meskipun berada di tengah musim kemarau, hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama, diperparah dengan pendangkalan aliran Sungai Batang Tumayo yang menyebabkan air meluap deras ke permukiman. Rekaman video yang diterima internationalmedia.co.id memperlihatkan aliran air cokelat yang melaju kencang, bahkan masuk ke dalam rumah warga. Sebanyak 90 kepala keluarga (KK) terdampak, dan sekitar 450 jiwa sempat mengungsi sementara waktu sebelum akhirnya kembali ke kediaman masing-masing setelah air berangsur surut menjelang dini hari. Muhari mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau informasi terkini dari sumber resmi.

Tak hanya Agam, Tapanuli Tengah di Sumatera Utara juga dilanda banjir bandang akibat curah hujan yang sangat tinggi. Peristiwa ini terjadi pada Jumat (17/7) sore di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka. Laporan dari BPBD Sumut, yang diterima internationalmedia.co.id, mengungkapkan bahwa jebolnya tanggul darurat Sungai Aek Silaga Laga menjadi penyebab utama masuknya air ke rumah-rumah penduduk. Sebanyak 200 KK terdampak oleh bencana ini. Meskipun banjir mulai surut pada Minggu (19/7), dampaknya meluas ke tujuh kelurahan di empat kecamatan, yakni Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik. Sekitar 145 jiwa warga Kelurahan Sipange terpaksa mengungsi di Gedung Gereja HKBP Sipange, dan dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Di ujung timur Indonesia, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, juga tak luput dari terjangan banjir. Sejumlah kantor instansi pemerintahan, termasuk rumah jabatan Bupati Sinjai, terendam air dengan ketinggian bervariasi antara 40 sentimeter hingga 1 meter. Analis Bencana BPBD Sinjai, Andi Octave Amier, kepada internationalmedia.co.id, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi pada Minggu (19/7) dini hari ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu (18/7) malam. Akibatnya, air Sungai Tangka dan anak Sungai Bontompare meluap, merendam ratusan rumah warga, fasilitas perkantoran, sekolah, masjid, hingga fasilitas olahraga di Balangnipa, Biringere, dan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara.
Menanggapi fenomena cuaca yang tidak biasa ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Berdasarkan pantauan internationalmedia.co.id dari situs BMKG pada Minggu (19/7), beberapa wilayah di Indonesia berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, yang kini terdampak banjir, masuk dalam kategori "Siaga" untuk potensi hujan lebat-sangat lebat hingga 21 Juli. Selain itu, potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang-lebat dan angin kencang juga diwaspadai di sejumlah provinsi lain seperti Aceh, Bali, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari ke depan.
Situasi ini menegaskan bahwa musim kemarau tidak selalu berarti bebas dari ancaman bencana hidrometeorologi. Perubahan pola cuaca yang ekstrem menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah daerah. Abdul Muhari dari BNPB kembali menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang bisa datang kapan saja, bahkan di luar perkiraan musim.
