Internationalmedia.co.id – News, Katingan – Suasana mencekam menyelimuti Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, menyusul insiden tragis dalam operasi penindakan narkoba. Seorang anggota kepolisian dilaporkan gugur, sementara dua personel lainnya hingga kini masih belum ditemukan. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri telah mengerahkan tim khusus untuk memperkuat upaya pencarian dan pengungkapan kasus di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah.
Brigjen Eko Hadi Santoso, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, menegaskan komitmen penuh pihaknya. "Kami akan memberikan dukungan penuh kepada jajaran di lapangan, tidak hanya dalam proses pencarian rekan-rekan kami yang belum ditemukan, tetapi juga dalam pengamanan area kejadian, serta menuntaskan pengungkapan jaringan narkotika dan para pelaku penyerangan terhadap aparat," ujar Brigjen Eko, seperti dikutip internationalmedia.co.id pada Kamis.

Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari berbagai unsur kepolisian terus bekerja keras menyisir lokasi untuk menemukan dua personel yang hilang. Selain itu, pengamanan ketat diberlakukan di area kejadian sembari mendalami keterlibatan pihak-pihak yang diduga melakukan penyerangan brutal terhadap petugas. Brigjen Eko Hadi juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Aipda Yudhie Perdana Putra, personel Satresnarkoba Polres Katingan, yang menjadi korban dalam insiden ini.
"Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang telah gugur dalam menjalankan tugas mulia memberantas peredaran narkotika. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan," ucap Eko Hadi. Ia menambahkan, setiap operasi pemberantasan narkotika akan menjadi bahan evaluasi komprehensif guna memastikan seluruh personel memiliki kesiapan optimal dalam menghadapi dinamika di lapangan.
"Setiap misi penindakan harus direncanakan dengan sangat cermat, mulai dari strategi operasional, identifikasi potensi ancaman, hingga penentuan jumlah personel dan kelengkapan yang dibutuhkan. Keselamatan setiap anggota adalah prioritas utama, tanpa sedikit pun mengurangi ketegasan kami dalam memerangi narkotika," tegasnya.
Insiden perlawanan brutal ini terjadi saat tim Satresnarkoba Polres Katingan melakukan penggerebekan terhadap terduga bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Katingan Tengah, pada Rabu dini hari. Dalam operasi tersebut, Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan meninggal dunia akibat luka senjata tajam. Sementara itu, dua anggota lainnya, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, dari Satresnarkoba Polres Katingan, hingga kini masih dalam pencarian dan belum diketahui nasibnya.
Peristiwa tragis ini bermula ketika Satresnarkoba Polres Katingan menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan kuat peredaran sabu di wilayah tersebut. Penyelidikan mendalam kemudian mengarah pada seorang target operasi berinisial BIO, yang ternyata merupakan residivis dalam kasus narkotika serupa.
Sebanyak dua belas personel kepolisian dikerahkan dalam operasi senyap ini. Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua unit: satu unit bertugas melakukan penindakan langsung di kediaman target, sementara unit kedua bersiaga di titik strategis sebagai tim pendukung. Awalnya, operasi berjalan sesuai rencana, dan target BIO berhasil diamankan.
Namun, situasi tiba-tiba berbalik mencekam. Beberapa individu di dalam rumah dan sejumlah warga sekitar secara mendadak melakukan perlawanan sengit menggunakan senjata tajam, termasuk parang. Laporan kepolisian menyebutkan, jumlah massa yang menyerang terus bertambah, bahkan mereka menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan untuk menghadapi petugas.
Akibat eskalasi situasi yang tak terkendali, personel kepolisian berupaya menyelamatkan diri sambil meminta bantuan tambahan. Beberapa anggota terpaksa harus berenang menyeberangi sungai dan mencari perlindungan di tengah hutan belantara demi menghindari amukan massa yang beringas. Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan tewas dengan luka-luka serius akibat senjata tajam. Hingga kini, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana masih terus dicari oleh tim gabungan yang bekerja siang malam.
