Internationalmedia.co.id, Jakarta – Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon kembali memanas. Pemerintah Israel mengisyaratkan akan meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menuduh kelompok yang didukung Iran tersebut kembali mempersenjatai diri, dan mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil tindakan tegas.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada November 2024, Israel tetap menempatkan pasukannya di wilayah selatan Lebanon dan terus melakukan patroli rutin. Menteri Pertahanan Israel, Katz, dalam pernyataannya yang dikutip AFP, menyebut Hizbullah "bermain api" dan menuding pemerintah Lebanon menunda-nunda pelucutan senjata kelompok tersebut.

"Komitmen pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah dan mengusirnya dari Lebanon selatan harus dilaksanakan. Penegakan hukum yang maksimal akan terus berlanjut dan bahkan diintensifkan – kami tidak akan membiarkan ancaman apa pun terhadap penduduk di utara," tegas Katz.
Netanyahu menambahkan bahwa Israel tidak akan mentolerir Lebanon menjadi front baru untuk menyerang mereka. "Kami berharap pemerintah Lebanon memenuhi komitmennya – melucuti senjata Hizbullah – tetapi jelas kami akan menggunakan hak membela diri kami berdasarkan ketentuan gencatan senjata," ujarnya dalam rapat kabinet mingguan.
Konflik antara Israel dan Hizbullah telah berlangsung lama. Ribuan warga Israel di dekat perbatasan utara terpaksa mengungsi setelah Hizbullah meluncurkan roket ke Israel pasca pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023. Serangan ini memicu konflik yang berlangsung lebih dari setahun, sebelum akhirnya gencatan senjata disepakati. Meskipun melemah akibat perang, Hizbullah tetap menjadi kekuatan bersenjata yang tangguh secara finansial. Israel menegaskan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi warga negaranya.
