Internationalmedia.co.id melaporkan sebuah terobosan teknologi pertahanan dari Israel. Kementerian Pertahanan Israel baru-baru ini mengumumkan penyelesaian pengembangan senjata laser berkekuatan tinggi bernama Iron Beam. Dijadwalkan beroperasi akhir tahun ini, senjata ini akan menjadi lapisan pertahanan tambahan dalam sistem pertahanan udara multi-tingkat Israel.
Dilansir dari berbagai sumber, Iron Beam, hasil kolaborasi Rafael Advanced Defense Systems dan Elbit Systems Ltd, memiliki kekuatan 100 kilowatt. Sistem ini telah melewati uji coba di Israel selatan, dengan hasil yang mengklaim keberhasilan dalam mencegat drone, roket, mortir, dan bahkan pesawat. Iron Beam akan diintegrasikan ke dalam sistem Iron Dome dalam beberapa bulan mendatang.

Keunggulan Iron Beam terletak pada biaya operasionalnya yang jauh lebih rendah. Setiap pencegatan hanya menghabiskan biaya kurang dari US$ 5, jauh lebih murah dibandingkan sistem pertahanan rudal konvensional yang menghabiskan puluhan ribu dolar per pencegatan. Hal ini menjadikan Iron Beam sebagai solusi yang lebih ekonomis untuk menghadapi ancaman drone dan proyektil lainnya.
Meskipun teknologi laser memiliki keterbatasan, seperti ketidakmampuan berfungsi optimal dalam kondisi cuaca berawan, Israel mengklaim sebagai negara pertama yang berhasil mengembangkan dan mendeploy sistem laser pertahanan skala penuh. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memuji sistem ini sebagai solusi yang efektif dan efisien biaya.
Pengumuman ini muncul setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menekankan perlunya kemandirian keamanan bagi Israel. Iron Beam dinilai sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan, terutama pasca serangan Hamas Oktober 2023 lalu yang menewaskan ribuan orang dan memicu gelombang serangan roket besar-besaran ke Israel. Keberadaan senjata laser ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menghadapi ancaman tersebut.
