Internationalmedia.co.id – News – Misi perdamaian PBB di Lebanon selatan diguncang tragedi ketika tiga prajurit terbaik Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur dalam serangkaian insiden mematikan. Peristiwa yang memilukan ini segera memicu kecaman keras dari pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sementara Israel, yang dituding bertanggung jawab, memberikan tanggapan yang menyerukan tinjauan menyeluruh dan menolak asumsi langsung.
Tiga prajurit TNI yang bertugas di bawah Pasukan Interim PBB di Lebanon (UNIFIL) telah kehilangan nyawa mereka. Mereka adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Praka Farizal gugur pada Minggu (29/3) setelah lokasi kontingen Indonesia di Kota Adshit al-Qusyar dihantam serangan artileri. Tak lama berselang, Kapten Zulmi dan Sertu Ichwan menyusul gugur ketika kendaraan konvoi logistik UNIFIL yang mereka kawal meledak dalam perjalanan menuju titik tertentu.

Militer Israel, dalam pernyataan yang diunggah di Telegram dan dikutip oleh kantor berita AFP pada Selasa (31/3), menepis anggapan bahwa mereka secara otomatis bertanggung jawab atas kematian prajurit TNI tersebut. "Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengklarifikasi keadaan dan menentukan apakah insiden tersebut diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF," demikian bunyi pernyataan militer Israel. Mereka juga menegaskan bahwa lokasi kejadian merupakan "area pertempuran aktif" di mana operasi militer dilancarkan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran, seraya meminta agar tidak ada asumsi yang mengaitkan insiden tersebut langsung dengan IDF (Israel Defense Forces).
Selain korban jiwa, insiden ini juga menyebabkan beberapa prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka. Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto terluka dalam ledakan konvoi. Sementara itu, dari serangan pada Minggu (29/3), Praka Rico Pramudia menderita luka berat, sedangkan Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan. Seluruh prajurit yang terluka telah mendapatkan penanganan medis, dengan satu prajurit luka berat dievakuasi menggunakan helikopter ke Rumah Sakit St. George di Beirut untuk perawatan lanjutan.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menjelaskan bahwa penyebab pasti ledakan kendaraan masih dalam tahap investigasi oleh UNIFIL. TNI, menurut Aulia, akan terus memantau perkembangan situasi dan menunggu hasil penyelidikan tersebut. "Untuk mengetahui penyebab insiden tersebut, UNIFIL saat ini sedang melaksanakan investigasi, dan TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi," kata Aulia, seperti dilansir Antara.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, telah menyatakan kecaman keras atas insiden serangan di Lebanon dan menyerukan penyelidikan yang transparan dan menyeluruh. Menteri Luar Negeri Sugiono, yang mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja di Tokyo, Jepang, menekankan pentingnya de-eskalasi konflik. "Kami meminta investigasi penuh dari UNIFIL untuk bisa menemukan sumber dari insiden ini dan sekali lagi meminta kepada semua pihak untuk melakukan deeskalasi," tegas Sugiono.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, turut menyampaikan kecaman keras atas serangan tersebut. Melalui akun X-nya pada Senin (30/3), Guterres menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga, rekan, dan negara Indonesia atas gugurnya penjaga perdamaian. Ia juga menyerukan semua pihak untuk menghormati kewajiban mereka di bawah hukum internasional demi menjamin keselamatan dan keamanan personel serta aset PBB.
