Internationalmedia.co.id – News – Teheran secara tegas menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran perundingan berikutnya dengan Amerika Serikat. Keputusan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengirim negosiator ke Pakistan, hanya beberapa hari menjelang berakhirnya gencatan senjata krusial di Timur Tengah. Penolakan Iran, yang dilaporkan AFP pada Senin (20/4), mengindikasikan memanasnya kembali tensi antara kedua negara.
Sumber-sumber Iran, seperti dikutip stasiun penyiaran pemerintah IRIB pada Minggu (19/4), menegaskan bahwa blokade maritim AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran menjadi batu sandungan utama. Situasi kian memburuk dengan pengumuman mengejutkan Trump pada hari yang sama, yang menyebutkan sebuah kapal perusak Amerika telah menembak dan melumpuhkan kapal Iran yang berupaya menghindari blokade.

Kantor berita Fars dan Tasnim sebelumnya telah mengutip sumber anonim yang menilai "suasana keseluruhan tidak dapat dinilai sangat positif." Mereka menekankan bahwa pencabutan blokade AS adalah prasyarat mutlak untuk dimulainya kembali negosiasi. Senada, kantor berita pemerintah IRNA menyoroti blokade tersebut dan "tuntutan yang tidak masuk akal serta tidak realistis" dari Washington, menyimpulkan bahwa "dalam keadaan ini, tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang bermanfaat."
Ketegangan ini terjadi saat Iran, AS, dan Israel hanya memiliki tiga hari tersisa sebelum berakhirnya gencatan senjata dua minggu yang sempat meredakan konflik di Timur Tengah. Perang tersebut dipicu oleh serangan mendadak AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Sebelumnya, satu-satunya sesi negosiasi selama 21 jam di Islamabad pada 11 April berakhir tanpa kesimpulan berarti, meskipun upaya untuk melanjutkan pembicaraan sempat digulirkan.
Menanggapi situasi ini, Presiden Trump melalui unggahan pada Minggu (19/4) menyatakan, "Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya." Namun, ia juga memperbarui ancamannya untuk menargetkan infrastruktur Iran jika kesepakatan tidak tercapai, menunjukkan tekanan yang terus-menerus dari Washington.
Sejak awal konflik, Trump memang berada di bawah tekanan besar setelah Teheran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz. Jalur air strategis ini, yang merupakan urat nadi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, penutupannya telah mengguncang ekonomi global dan memicu kekacauan pasar. Gagal memaksa pembukaan kembali selat tersebut, Trump kemudian membalas dengan memberlakukan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, dengan tujuan memutus aliran pendapatan minyak Teheran.
Insiden terbaru yang memperkeruh suasana adalah pengumuman Trump pada Minggu (19/4) mengenai kapal kargo berbendera Iran yang "berusaha melewati blokade angkatan laut kami, dan itu tidak berjalan baik bagi mereka." Sebuah kapal perusak AS dilaporkan mengeluarkan peringatan sebelum akhirnya menembak dan "membuat lubang di ruang mesin" kapal tersebut untuk memaksanya berhenti. Trump mengonfirmasi bahwa marinir AS kini telah mengamankan kapal bernama Touska itu, yang disebutnya berada di bawah sanksi Departemen Keuangan AS karena "riwayat aktivitas ilegal sebelumnya."
Selat Hormuz sendiri sempat dibuka kembali oleh Iran pada Jumat (17/4) sebagai respons terhadap gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Namun, penutupan kembali dilakukan keesokan harinya, Sabtu (18/4), menyusul dipertahankannya blokade oleh Amerika Serikat. Garda Revolusi Iran pun mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa setiap upaya melintasi selat tanpa izin "akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Minggu (19/4) mengecam blokade tersebut sebagai "pelanggaran" terhadap gencatan senjata dan "hukuman kolektif ilegal" terhadap rakyat Iran. Meskipun sejumlah kecil kapal tanker sempat melintas selama pembukaan singkat pada Sabtu (18/4) pagi, data pelacakan pada Minggu (19/4) pagi menunjukkan Selat Hormuz kini kosong dari kapal. Tiga insiden penembakan dan ancaman terhadap kapal komersial pada sore hari sebelumnya semakin menggarisbawahi bahaya yang mengintai setiap upaya penyeberangan.

