Internationalmedia.co.id – News – Teheran mendesak komunitas internasional untuk tidak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera mengambil tindakan konkret untuk mengutuk serangkaian serangan yang dituduhkan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap rakyat dan infrastruktur Iran. Seruan ini disampaikan Araghchi dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Minggu (5/4) waktu setempat, menyoroti apa yang disebutnya sebagai "kejahatan sistematis" yang telah berlangsung selama 37 hari.
Dalam dialog diplomatik tersebut, Araghchi menggarisbawahi pola agresi yang berulang dari Washington dan Tel Aviv. Ia mengecam keras penargetan yang diduga menyasar berbagai fasilitas vital Iran, mulai dari infrastruktur industri dan produksi, rumah sakit, sekolah, area permukiman, hingga situs nuklir dan pusat-pusat penelitian ilmiah. Menurutnya, aksi-aksi barbar ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan norma-norma kemanusiaan dasar yang tak dapat ditoleransi.

Oleh karena itu, diplomat senior Iran ini menuntut respons cepat dari lembaga-lembaga internasional yang relevan, khususnya Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Ia mendesak agar kedua badan tersebut secara resmi mengutuk tindakan kriminal ini dan menyeret pihak-pihak agresor ke meja hijau keadilan internasional.
Araghchi juga tidak luput menyoroti ancaman terbaru dari Amerika Serikat terhadap fasilitas energi Iran. Ia mengecam retorika provokatif tersebut sebagai pengakuan eksplisit atas niat untuk melakukan kejahatan perang. Lebih lanjut, ia mendesak seluruh anggota berpengaruh Dewan Keamanan PBB untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab, berlandaskan pada prinsip hukum internasional, serta mencegah upaya Washington menyalahgunakan Dewan Keamanan sebagai alat untuk agenda ilegalnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan kembali konsistensi sikap Moskow dalam mengecam keras agresi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Lavrov menekankan urgensi penghentian segera serangan-serangan ilegal terhadap target sipil, terutama pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr. Ia juga mendesak semua pihak untuk memanfaatkan setiap saluran diplomatik guna mencegah eskalasi dan penyebaran konflik yang lebih luas.
Percakapan penting antara Araghchi dan Lavrov ini berlangsung menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang kembali melontarkan ancaman keras. Trump sebelumnya mengancam akan "melepaskan neraka" ke Iran jika negara itu berani menutup Selat Hormuz, bahkan secara spesifik menyebut akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. Ancaman ini menambah tensi di kawasan dan menjadi latar belakang utama seruan Iran kepada PBB.

