Mamdani, yang berasal dari Partai Demokrat, sebelumnya menjabat sebagai legislator negara bagian New York mewakili wilayah Queens. Kemenangannya atas mantan Gubernur New York, Andrew Cuomo, dalam pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat, mengejutkan banyak pihak dan memicu reaksi keras dari Trump.
Sejak Juni lalu, Trump telah melancarkan serangan verbal terhadap Mamdani, menyebutnya sebagai "komunis gila" dan meragukan kecerdasannya. Trump bahkan menuding warga Yahudi yang memilih Mamdani sebagai "orang bodoh" dan mengancam akan menahan dana federal dari Kota New York jika Mamdani terpilih.

Namun, Mamdani tak tinggal diam. Dalam pidato kemenangannya, ia secara terbuka menantang Trump dengan mengatakan "keraskan volumenya," sebuah pesan yang jelas ditujukan kepada mantan presiden tersebut. Mamdani menegaskan bahwa kemenangannya adalah bukti bahwa Trump bisa dikalahkan, dan New York akan menjadi "cahaya" di tengah "kegelapan politik."
Trump pun memberikan respons samar melalui media sosialnya, Truth Social, dengan menulis "…DAN INI DIMULAI!" setelah Mamdani menyebut namanya dalam pidatonya. Meskipun tidak jelas apakah pesan tersebut ditujukan langsung kepada Mamdani, waktunya yang berdekatan dengan pidato kemenangan Mamdani menimbulkan spekulasi bahwa perseteruan ini baru saja dimulai.
Mamdani sendiri mendedikasikan kemenangannya untuk kelas pekerja dan berjanji untuk menjadikan New York sebagai kota yang inklusif dan merayakan keberagaman. Ia menyatakan bahwa perjuangan setiap warga yang terpinggirkan adalah perjuangannya juga.
Akankah perseteruan antara Mamdani dan Trump terus berlanjut? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, satu hal yang pasti, kemenangan Mamdani telah mengguncang panggung politik Amerika dan memicu perdebatan sengit tentang identitas, ideologi, dan masa depan negara tersebut.
