Internationalmedia.co.id – Situasi di Gaza kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Hamas. Pernyataan ini muncul di tengah tudingan bahwa Hamas masih melakukan serangan mematikan selama masa gencatan senjata yang baru berjalan sepekan.
Trump, melalui platform media sosial Truth Social, bersumpah akan "menghabisi" Hamas jika kelompok tersebut terus melakukan pembunuhan di Gaza yang dianggap melanggar kesepakatan. "Jika Hamas terus membunuh orang-orang di Gaza, yang bukan merupakan bagian kesepakatan, kita tidak memiliki pilihan selain masuk dan menghabisi mereka," tegas Trump, seperti dikutip internationalmedia.co.id dari AFP, Jumat (17/10/2025).

Ancaman ini menjadi sorotan karena sebelumnya Trump terkesan meremehkan tindakan Hamas, termasuk eksekusi mati di depan umum, dengan menyebutnya sebagai "pembunuhan anggota-anggota geng." Pernyataan ini kontras dengan tuntutan Komandan Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, yang meminta Hamas untuk menghormati gencatan senjata dan berhenti menembaki warga sipil Palestina.
Sementara itu, Israel dan Hamas saling tuding terkait pelanggaran gencatan senjata. Israel menuding Hamas belum menyerahkan seluruh jenazah sandera sesuai kesepakatan, sementara Hamas menuduh Israel melanggar gencatan dengan menewaskan puluhan orang. Pertikaian ini berpotensi menggagalkan gencatan senjata dan elemen-elemen penting lainnya, seperti perlucutan senjata Hamas dan tata kelola Gaza di masa depan.
Menurut kesepakatan gencatan senjata, Hamas seharusnya menyerahkan total 48 sandera, termasuk 20 yang masih hidup dan 28 yang sudah meninggal. Hamas telah menyerahkan 20 sandera yang masih hidup, dan sebagai imbalan, Israel membebaskan 1.968 tahanan Palestina. Namun, dari 28 jenazah sandera, Hamas baru menyerahkan sembilan, dan satu di antaranya dipastikan bukan sandera.
Hamas mengklaim telah menyerahkan semua jenazah sandera yang bisa ditemukan dan membutuhkan waktu karena beberapa jenazah terkubur di terowongan yang hancur atau tertimbun reruntuhan. Mereka juga membutuhkan alat berat dan peralatan penggalian untuk menemukan jenazah lainnya. Di sisi lain, seorang pejabat senior Hamas menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan menewaskan sedikitnya 24 orang sejak Jumat (10/10) lalu. Militer Israel belum menanggapi tuduhan tersebut.
